Tampilkan postingan dengan label Batam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batam. Tampilkan semua postingan

14 Mei 2008

Byar-Pet Listrik Batam

Hampir dua minggu ini listrik di Batam byar-pet (terjemahan bebasnya; sering padam). PLN Batam melakukan pemadaman listrik bergilir di hampir seluruh wilayah Batam, rentang waktu pemadaman berlangsung 2-4 jam. Alasan pemadaman listrik ini adalah berkuarangnya pasokan gas.
Apapun alasannya tentu saja hal ini sangat merugikan mulai dari rumah tangga, perkantoran, industri kecil rumah tangga, industri skala besar bahkan rumah sakit.

Ga usah jauh-jauh untuk ngeliat dampaknya, disaat aku sedang mengerjakan laporan mendadak listrik padam dan kami pun terpaksa terbengong-bengong selama beberapa jam. Usaha konveksi disebelah kantorkupun kerjanya menjadi terhambat. Borongan pakaian yang ditargetkan akan selesai dalam hitungan hari, tidak bisa diselesaikan sesuai rencana dan akibatnya tentu pada penurunan pendapatan. Begitu juga RS, seminggu yang lalu sempat kubaca di sebuah harian di Batam bahwa RS mengalami kerugian karena banyak vaksin yang rusak karena pendingin ga berfungsi akibat pemadaman listrik.

Listrik hal vital dalam hidup, khususnya untuk Batam sebagai kota industri. Klo krisis ini berlangsung lama, weh weh weh... kacau euy!

PLN Batam, PGN, Pemerintah dan warga Batam mari berbenah bersama.

Jangan biarkan Batam berlama-lama dalam gelap.

Transportasi Publik Kota Batam

SETAHUN menjadi orang Batam, serasa tidak lengkap karena belum mencoba bus pilot project Batam. Di Sabtu pagi yang dingin dan basah, aku mencoba salah satu transportasi publik milik Batam ini.


Dengan Rp.3000,00 untuk penunmpang umum dan Rp. 1500,00 untuk pelajar adan anak-anak, dari halte bus Tiban Cipta Puri aku dan beberapa penumpang melaju menuju Batam Centre.

Dibandingkan dengan taxi (taxi angkot; taxi yang menaikkan beberapa penumpang sekaligus), bus ini jauh lebih murah. Jika menggunakan taxi harus merogoh uang kurang lebih sebesar Rp. 10.000,00 untuk sampai Batam Centre dari daerah Tiban.

Walau tidak dilengkapi AC seperti Trans Jakarta ato Trans Jogja, bus ini jauh lebih nyaman daripada taxi atau angkot. Selain murah dan nyaman, bus ini juga aman. Pengguna bus ini banyak dari kalangan pelajar dan ibu-ibu beserta putra-putrinya, tentu saja sangat menenangkan daripada berdesakan dalam taxi sempit dengan sejumlah orang (terutama laki-laki) asing.

Yang disayangkan adalah jumlah armada, halte bus, trayek, serta jam operasi dari bus ini masih terbatas.
Bus ini yang kutahu hanya melayani dua trayek yaitu Sekupang-Batam Centre dan Batu Aji-Batam Centre serta sebaliknya. Jam operasi masih terbatas dari pagi sekitar jam 7 sampai jam 6 sore. Mengenai jumlah armada, aku tidak punya informasi yang pasti tapi berdasarkan pengamatan sepertinya jumlah armada belum mencukupi. Kemudian kupikir halte bus juga kurang dapat merangkul titik-titik strategis.
Seiring dengan rencana pemerintah yang akan menaikkan harga BBM akhir Mei ini, kupikir saatnya pemerintah Batam untuk mulai membenahi “si biru” ini, sehingga Batam bisa memiliki transportasi yang murah, aman dan nyaman serta bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Batam.

Jika transportasi publik di Batam bisa sesuai dengan yang diidamkan bersama, diharapkan kedepan memberikan hasil yang positif seperti mengurangi kemacetan akibat penggunaan kendaraan pribadi ato mungkin lebih tepatnya antisipasi macet karena Batam emang belum macet, mengurangi polusi, hemat energi dan tentu saja dapat membantu pemerintah mengurangi belanja negara.
Hehe..kayanya sie gitu:)

07 Mei 2008

Aku dan Batam

WAKTU bergulir begitu cepat, setahun sudah menjejak Batam. Batam yang penuh geliat pembangunan, tempat bermimpi dan berjuang untuk penghidupan yang lebih baik, ramai hiruk pikuk industri dan buruhnya, serta gairah malam yang sesak kenikmatan.

Dari yang hanya sebuah pulau kecil menjadi sebuah KOTA, penduduk Batam pun "terkejut". Layaknya anak kecil yang dipaksa menjadi dewasa dengan melewatkan beberapa tahap perkembangan, Batam kemudian menghadapi berbagai masalah.
Tapi biarlah itu menjadi masalah mereka, karena antara aku dan Batam memiliki masalah sendiri yang datang dan pergi dan belum terselesaikan.

Berikut beberapa kisah yang menggambarkan apa yang terjadi antara aku dan Batam:

Kisah pertama: Istri Apek Singapore
Diawal kedatanganku, saat membeli makanan (gorengan), si penjual bertanya tentang daerah asal dan pekerjaan, mungkin karena wajahku masih asing di lingkungan itu. Pertanyaan tentang pekerjaan kujawab hanya dengan senyum.
Ternyata senyumku diintepretasikan berbeda. Pertanyaan (dan sekaligus tuduhan) yang meluncur berikutnya adalah "Jadi sampeyan bojone wong Singapore?". Tidak kujawab dan berlalu dengan tanda tanya.
Beberapa hari kemudian kutemukan fenomena bahwa banyak sekali perempuan yang menikah ato "menikah" dan menggantungkan hidupnya dengan apek (sebutan untuk laki-laki tua chinese) Singapore.
Jika aku tahu sejak awal, maka akan kujawab tegas pertanyaan sekaligus tuduhan penjual itu.

Kisah kedua: Papi
Lagi-lagi dengan penjual makanan. Ketika membeli roti, aku meminta saran mengenai roti yang enak dengan ukuran kecil pada abang penjual.
Abang roti : Roti yang kecil, takut gemuk ya?
Aku : Mungkin iya
Abang roti : Takut dimarahin "papi" ya klo gemuk? (dengan ekspresi wajah mesum)
Aku : (maksud loh??)

Kisah ketiga: Check In
Dari seberang tempat aku berdiri tampak deretan taxi dan pengemudinya yang berteriak menawarkan jasanya padaku. "Taxi Kak?", aku menggeleng karena memang aku tidak membutuhkan taxi. Gelengan kepala tidak membuat mereka puas, kemudian salah seorang dari mereka berteriak "Janji check in dihotel mana?" dan semua sopir taxi yang ada disana tertawa.

Oh...

Jika Batam menuduh dan melecehkanku, ternyata Batam pun tidak lepas dari tuduhan. Suatu ketika Nai pernah bercerita bahwa temannya yang warganegara Singapore menyebut Batam sebagai "Kota Haram" dan dia tidak ingin menginjakkan kaki di Batam. Menurutnya Batam hanyalah kota wisata seks.

Hmm...??

Setelah kisah-kisah diatas dan beberapa kisah lain yang tidak kutuliskan, tidak membuatku berniat meninggalkan Batam. Bahkan mungkin hatiku sudah terpaut dengan kota ini.

Kata seorang teman kala aku sedang tidak berhasrat pada Batam, "Dibikin gairahlah, sayang dilewatkan, secara Batam gitu.."

Ya.., ini Batam Nyom!



Sapedah | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id