Tampilkan postingan dengan label Ragam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragam. Tampilkan semua postingan

06 November 2009

Antrian Ibu Hamil

Satu minggu lewat, saya terjebak (baca: menjebakkan diri) dalam antrian yang panjang disebuah bank milik pemerintah.

Security
bank menghampiri saya dan memberikan nomor antrian, katanya "ibu tunggu panggilan dari teller". Dalam kebingungan saya terima nomor antrian itu. Belum sempat bertanya, seorang bapak berbaju dinas yang antri dibelakang saya bertanya "loh pak, antrian apa itu?", dengan manis bapak security menjawab "antrian ini untuk orang tua atau ibu hamil".


HAH???

Bapak berbaju dinas kemudian bertanya, "udah berapa bulan? nampaknya masih kecil"

Saya: "Hehe..mendadak hamil pak" kemudian menyibukkan diri sambil menunggu panggilan dan menghindari pertanyaan lebih lanjut :p

28 Oktober 2009

Padahal aku rindu

Berbulan-bulan tidak mencatat disini.
Padahal aku rindu.

30 Maret 2009

Ramai Nyepi

RABU sore saya pulang ke rumah dengan semangat, cuti saya disetujui. Saya bayangkan empat hari kedepan saya akan menikmati cuti (hanya) di rumah, tanpa email, telepon, dan keluhan.
Nyepi, menyepi dan sepi....

Ternyata meleset. Jauh dari sepi. Hari itu ramai dengan kabar. Kabar-kabar yang merusak jiwa.

Menjadi Do Nambar

Sabtu pagi saya menerima beberapa pesan singkat dari seorang bocah laki-laki (15th) Afganistan, yang mengabarkan bahwa hari itu dia akan kembali ke negaranya. Dia juga mengabarkan bahwa dia mencintai saya serta betapa dia akan merindukan saya. Aih aih...

Saya merunut kembali pertemuan saya dengan si bocah. Akhirnya saya tahu kenapa bocah itu mengatakan bahwa ia mencintai saya. Saya telah menyentuh tangannya. Saya lupa bahwa di negara asalnya hubungan antara laki-laki dan perempuan sangat dibatasi. Tapi siang itu, dibalik jeruji besi (tanpa hijab) dan diantara tangisnya saya menyentuh tangannya (sekedar untuk menenangkan). Hmm..mungkin untuknya ini sangat spesial, auw...

Mendadak saya merasa telah menjadi do nambar. Do Nambar adalah slang bahasa urdu yang merujuk pada kualitas rendah. Kaum do nambar adalah pelaku zinah (baca: Do Nambar, kisah petualangan mas agus yang berwibawa di kompas.com)

Malang sekali bocah itu. Selain menjadi korban no dambar, saya juga telah merusak gambarannya tentang sosok perempuan idaman, kgkgkg... :p

Langsing dengan 5Kg daging sapi

Sehari setelah Nyepi saya berjalan-jalan ke mall, kali ini benar-benar mencari keramaian dalam arti yang sebenarnya. Sebuah stand menarik perhatian saya. Maixian slimming, pelangsingan dengan metode tanam benang. Saya pun bertanya pada si mbak tentang produk yang dia jual. Si mbak menjelaskan, "per Kg-nya cuma Rp. 250.000,-" (dengan ekspresi wajah datar).

Saya tertawa sejadi-jadinya. Saya merasa sedang bertansaksi dengan penjual daging.

Wah, wah, rupanya per Kg berat badan saya setara harganya dengan 5Kg daging sapi :p

Petaka Sate Ati

Rangkaian perayaan nyepi saya tahun ini terasa lebih "ramai" dari tahun-tahun sebelumnya. Usai kabar-kabar yang merusak jiwa dan do nambar, kali ini petaka menghampiri.

Saya keracunan. Keracunan sate ati. Muntah, diare, demam. Diungsikan ke rumah abah Robert dan keesokannya mendapat kunjungan (tanpa buah) dari om-om bersepeda.

Keramaian usai. Sepi berlalu.

20 Maret 2009

"jangan buang waktu, pulang, dan cari cara lain"

BARU saja saya berbincang melalui YM dengan seorang mantan migran yang sempat saya "asuh". Kabarnya baik, saat ini dia bekerja di Qatar. Sungguh berita yang menggembirakan untuk saya.
Obrolan kami pun mengalir, kemudian dia bertanya tentang migran-migran lain yang pernah senasib dengannya. Saya sampaikan bahwa mereka masih bertahan di Batam dan seminggu yang lalu mereka melakukan suatu hal yang harus dipertanggungjawabkan.
Dia menyesalkan kenapa teman-temannya yang berbeda negara itu melakukan tindakan bodoh seperti itu.
Diantara sesal, dia menitipkan sebuah pesan pada saya untuk disampaikan pada mereka yang masih bertahan , "jangan buang waktu, pulang dan cari cara lain"
Kalimat itu terasa biasa saja jika diucapkan oleh seorang social worker, namun menjadi luar biasa karena diucapkan oleh seorang mantan migran.
Sebuah testimony yang luar biasa sekaligus haru.
Baik teman, akan saya sampaikan pesanmu bukan hanya pada mereka "yang masih bertahan" namun juga pada mereka "yang baru saja memulai".

12 Maret 2009

Orang Tua

KETIKA menjenguk bayi migran yang baru saja dilahirkan, saya di tanya oleh seorang perawat ruang bayi, "Mau jenguk bayi siapa Kak?", saya jawab dengan menyebut nama migran (ayah si bayi) dan kemudian perawat berlalu ke dalam untuk mengambil bayi yang saya maksud.
Beberapa menit kemudian dia muncul dan mengatakan bahwa bayi yang saya sebutkan tidak ada, tapi saya keukeh bahwa bayi migran saya di rawat disana. Perawat kemudian mengajak saya masuk untuk mencari bersama.
Satu persatu saya amati papan identitas yang tergantung di box bayi, dan sampai pada satu box saya mendapati papan bertuliskan seperti ini:



Wealah... ternyata nama sayalah yang dituliskan sebagai orang tua si bayi, pantas ibu perawat itu tidak menemukan bayi yang saya maksud. Kacaunya lagi didepan nama saya ada "Tn".
*menahan tawa

10 Maret 2009

Rencana Menepis Kebosanan

BELAKANGAN ini saya merasa bosan. Bosan hanya disitu, bosan melakukan itu, bosan memakai itu, bosan makan itu, bosan suasana itu. Yah...saya bosan dengan yang itu-itu saja, saya butuh penyegaran, perlu pencerahan.
Berikut beberapa rencana yang saya susun (dan sebagian sudah saya wujudkan) untuk menyudahi kebosanan-kebosanan diatas:

a. Liburan. Pertama, merencanakan menikmati Nyepi di Lagoi. Saya tahu ini buruk sekali karena saat Nyepi saya semestinya menjalankan catur brata penyepian bukannya malah bersenang-senang di Lagoi. Kedua, merencanakan liburan dengan backpacking ke negara-negara indocina. Untuk yang kedua ini, saya sedang giat-giatnya menabung.
b. Mengakhiri masa jahiliyah percawetan dengan membeli pakaian dalam yang yang lebih berwarna dan membuang hampir semua pakaian dalam lama. Pakaian dalam baru, semangat baru :p
c. Berencana membeli mesin cuci. Saya bosan setiap sabtu pagi selalu disibukkan dengan aktivitas mengucek dan memeras, saya putuskan membeli mesin cuci akhir Maret ini.
d. Membeli kasur. Kasur yang empuk, hangat dan nyaman. Oh menyenangkan....
e. Berencana menikah. @_@
Sudah.
*ternyata rencana b-lah yang mampu menyudahi kebosanan :)

18 Februari 2009

Mimpi Sebelum Tidur

"APA MIMPIMU?"
Si gadis menjawab, "Aku ingin bekerja di kantor pos" (baca: petugas loket). Dengan sedikit tercengang saya melanjutkan dengan bertanya, "Mengapa?", kemudian si gadis bercerita mengapa dia ingin bekerja di kantor pos.
Semua berawal dari kecintaan pada keluarga yang membuatnya setiap bulan mendatangi kantor pos untuk mengirimkan wesel. Di setiap kedatangan ia akan disambut petugas loket yang yang tersenyum ramah. Si gadis terpesona dengan tugas dan keramahan petugas loket. Menurutnya mengetik pesan (bunyi pesan di wesel: "pergunakan dengan sebaik-baiknya") dan mensahkan wesel dengan membubuhkan stempel adalah pekerjaan mulia dan menyenangkan. Alasan kedua ialah ia ingin bekerja dengan mengunakan seragam, seragam oranye dengan lilitan scraft di leher.
Hmm... ceritanya mengingatkan saya pada Ikal yang menjadi pegawai kantor pos dan ayahnya yang menganggap orang yang berseragam adalah orang yang pintar.
Mimpi gadis ini menurut saya luar biasa mencengangkan dan luar biasa membuat saya bahagia, entahlah...:)
Itulah mimpi indah yang ia utarakan pada saya sebelum ia benar-benar bermimpi dalam tidurnya.

03 Februari 2009

Single Happy

SENYUMku mengembang saat mendengar lagu ini.
Kenapa?
Karena "aku baik-baik saja Mom."

Single Happy, Oppie Andaresta

Mereka bilang aku pemilih dan kesepian
Terlalu keras menjalani hidup
Beribu nasehat dan petuah yang diberikan
Berharap hidupku bahagia

Aku baik-baik saja
Menikmati hidup yang aku punya
Hidupku sangat sempurna
I’m single and very happy
Mengejar mimpi-mimpi indah
Bebas lakukan yang aku suka
Berteman dengan siapa saja
I’m single and very happy

Mereka bilang sudah saatnya karena usia
Untuk mencari sang kekasih hati
Tapi ku yakin akan datang pasangan jiwaku
Pada waktu dan cara yang indah

Waktu terus berjalan
Tak bisa ku hentikan
Ku inginkan yang terbaik untukku


Ya... I’m single
And happy.

Happy dengan keluarga dan teman-teman yang luar biasa, happy bisa nyepeda, happy karena sampai hari ini belum miskin (dan semoga tidak jatuh miskin), happy dengan pekerjaan, happy karena ngeblog and very happy saat mendengar lagu Oppie:)

22 Januari 2009

Nenek Moyang Kita

Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudra, menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa ...

KEMARIN saya mengantarkan migran-migran berbelanja pakaian untuk menyambut Imlek disebuah toko pakaian di komplek pertokoan dan pasar Aviari. Di toko pakaian tersebut saya berbincang dengan pemilik toko, seorang laki-laki keturunan Cina.

Pemilik toko bertanya banyak tentang migran, mulai asal mereka, kenapa mereka 'bermigrasi', dimana mereka tinggal, siapa yang mendanai, dan seterusnya, begitu banyak pertanyaannya. Setelah pertanyaan yang bertubi-tubi tersebut, ia menatap lekat seorang migran. Tatapan penuh iba, seperti tatapan Ili saat bertemu Thevan seorang migran Sri Lanka. Beberapa saat menatap migran, ia menoleh kearah saya dan berkata, "Mereka sama seperti nenek moyang kita, dari Cina susah payah naik kapal ke sini untuk hidup lebih baik".

Ayu, "mmm..." kemudian menatap kosong dan hanyut dalam arus pikiran liar, membayangkan nenek moyang kita adalalah peluat tangguh dari Cina.

* ingin meralat kata kita namun tidak tega*

Saat kegiatan berbelanja usai, apek memberi 1Kg anggur serta 1Kg jeruk kuning kecil yang selalu muncul menjelang Imlek dan mengakhiri pertemuan kami dengan Kamsia.

Kamsia Pek...

Nenek moyang kita membuat kulkas saya tidak lengang seperti hari-hari biasanya:)

20 Januari 2009

Di Jakarta

Ditulis untuk Tasyem.
Cin, beginilah arisanku bersama Ili dan Sg di Jakarta.

Jakarta oh Jakarta...
Jika bukan untuk mengantarkan Thevan menggapai mimpi, rasanya enggan untuk ke kota ini. Syukurlah di Jakarta tidak hanya ada macet, banjir, dan mall, di Jakarta masih ada sahabat, ada Ili dan Sg.

Di Sarinah
Setelah beberapa jam terjebak di sebuah ruangan asing, saya melangkah keluar menyeberang ke sebuah gedung di depan Executive Building. Disana saya menantikan sahabat-sahabat tercinta dengan segelas es krim rasa stroberi. Menunggu beberapa lama akhirnya mereka muncul dengan wajah khas Jakarta, wajah kelelahan. (mbantin) "Sobat, too much work will kill you..."

Di Jalan Sabang
Makan. Makan godong-godongan, cumi, belut goreng, dan ditutup dengan jambu air.

Di Pusat Kebudayaan Prancis
Menikmati yogurt, mendengarkan Sg bercerita tentang kisah cintanya, sesekali menatap Ili yang bersemangat diantara lelahnya, mengamati Mbak Widya yang terlihat lebih kurus.

Di Kost Ili
Hantu-hantu di kamar Ili membuat saya mengantuk dan kedinginan, alhasil saya tidur sangat lelap. Syukurlah tidak ditakuti oleh hantu-hantu itu, mereka hanya melayang...

Di Plaza Semanggi
Mendengarkan Sg yang sedang dimabuk asmara bercerita tentang kekasihnya. Kekasih yang memiliki kerjap mata yang tulus. Auw...cinta:)
Beberapa jam bersama Sg, Ili kemudian menyusul ke Plangi. Lagi-lagi ia datang dengan wajah kelelahan dan terlihat lebih tua, mungkin terlalu banyak meeting tentang perdagangan di berbagai embassy membuatnya sangat lelah.
Pesan untukmu Cin, bersyukurlah dirimu tidak bekerja di lembaga donor karena wajahmu sudah terlihat lebih tua dari usia sebenarnya:)





Di Monas
Belajar meracik sianida.

Sudah, hanya sebentar tapi mengobati rindu Cin. Semoga lain waktu ada dirimu..

31 Desember 2008

Menutup Kelam Menyongsong Asa

TIDAK terasa sudah di penghujung tahun 2008. Masih segar dalam ingatan, setahun yang lalu saya menghabiskan malam di sana dengan untaian syukur dan harap dalam doa.

Super.... (meminjam kata ajaib Mario Teguh), karena banyak sekali harapan yang saya panjatkan malam itu terwujud sepanjang 2008. Meski tak lepas dari lara dan setitik kisah kelam, tahun 2008 merupakan tahun yang luar biasa.
Luar biasa atas limpahan rejeki dan kesehatan, perjumpaan dengan mereka yang penuh ceria, pertemuan dengannya yang memberi warna meski kemudian meninggalkan kelam, dan yang mengagumkan di tahun ini perlahan saya belajar menghadapi ketakutan-ketakutan yang selama ini membayangi langkah.

Beberapa jam lagi langit akan semarak dengan warna. Teriring warna-warna indah di langit, saya tutup kelam dan songsong hari-hari indah di tahun 2009.
Dan tidak akan pernah lelah melebar jiwa....

Selamatkan Tahun Baru:)


gambar diunduh dari www.kamera-digital.com

06 Desember 2008

Hujan

SEDANG hujan. Meski gelap dan dingin, namun saya menyukai hujan.

Sore ini menikmati hujan ditemani beberapa lagu tentang hujan, antara lain: Hujan-Utopia, Hujan Fantasi-Jubing, Hujan Bulan Juni-Sapardi Djoko Damono, dan lagu milik Andien tentang hujan yang saya lupa judulnya.
Berikut syair dari lagu-lagu yang saya tuliskan diatas:


Hujan, Utopia

Rinai hujan basahi aku. Temani sepi yang mengendap. Kala aku mengingatmu. Dan semua saat manis itu
Segalanya seperti mimpi. Kujalani hidup sendiri. Andai waktu berganti. Aku tetap takkan berubah
Aku selalu bahagia. Saat hujan turun . Karena aku dpt mengenangmu untukku sendiri
Selalu ada cerita. Tersimpan dihatiku. Tentang kau dan hujan. Tentang cinta kita yang mengalir . Sperti air
Aku selalu bahagia. Saat hujan turun . Karena aku dpt mengenangmu untukku sendiri. Aku bisa tersenyum. Sepanjang hari karena hujan pernah. Menahanmu disini. Untukku...
***
Hujan Fantasy, Jubing

petikan gitar yang merdu dari lagu anak-anak.
tik tik bunyi hujan diatas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok, dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua
***


Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga
***
..., Andien

reff:
harap-harap cemas menanti, deras hujan kan berhenti, hingga cerah cerah alamku ini, berseri, sambut mentari, wahai hujan hujan di sore ini, walau engkau adalah karunia-Nya, namun tolong tolong pergilah dulu, sedang kutunggu datangnya engkau sayang

***


Sudah selesai hujannya
Sudah menyanyinya
*gambar diunduh dari ruangirna.blogspot.com/2007/01_01_archive.html/

Rejeki

Rejeki tak akan kemana

HARI ini hari Sabtu. Hari yang biasanya saya isi dengan bersepeda, mencuci, menyetrika dan kemudian tidur seharian. Tapi rupanya hari ini saya tidak bisa melakukan semua hal diatas, saya harus ke kantor.
Meeting begitu permintaannya. Dengan berat saya harus rela meninggalkan kasur hangat saya.

Memakai kostum nggilani (kaos dan celana yang sudah saya pakai berkali-kali dalam minggu ini dan belum saya cuci) saya berangkat gontai sambil ditemani perasaan kecewa pada diri sendiri karena telah melewatkan sebuah kesempatan. Saya melewatkan sebuah lowongan di WHO, oh...

Tiba dikantor saya melihat makanan dan minuman. Hmm.. sepertinya rapat yang istimewa sampai menyediakan makanan-makanan sedap. Cukuplah untuk mengobati kekecewaan saya pagi ini:)

Tak lama berselang kemudian si pengatur proyek itu datang dengan mengenakan kemeja (sedikit bingung, saya pikir cukup aneh berpakaian rapi dihari Sabtu meski untuk meeting, yah..mungkin saja ia sedang ingin rapi). Kemudian ia membuka rapat, seterusnya bla bla bla..... (seperti rapat-rapat biasa) dan saya sibuk dengan pikiran-pikiran liar saya.
Sedang asyiknya menikmati keliaran diri, si pengatur proyek berujar “dengan ini saya serahkan tugas dan tanggung jawab si... kepada ... silahkan menyampaikan beberapa kata.
Dengan bingung, saya ikuti permintaannya, seterusnya bla bla bla... dilanjutkan dengan berjabat tangan, berpelukan, dan berfoto.

Oh???
Ya ini rejeki, meski bukan di WHO.
*meski gajinya tidak seperti di who, tapi tetep alhamdulillah...

07 November 2008

Nostalgila

Baru saja saya menerima foto diatas, foto kami di Tanah Lot yang diambil sekitar tahun 1987 dengan latar belakang Pura Tanah Lot yang sedang diubah elok. Melihat foto itu membuat saya bernostalgila pada masa kecil saya.
Indahnya...
***
Gadis kecil berlari ikuti arus
Tak peduli gaunnya tersingkap angin
Dia ingin bebas
Bagai bidadari
Melihat semua
Warna warni dunia
***

05 November 2008

Malaikat Juga Tahu

HARI ini saya berbincang dengan beberapa laki-laki tentang kisah terlarang mereka. Tidak akan saya teruskan.
Saya akan berbagi syair lagu Malaikat Juga Tahu milik Dewi Lestari.
Besar harapan saya lagu ini bisa menyadarkan mereka untuk segera menyudahi kisah itu.
"Bung...,sepi dan hampamu takkan hilang oleh pacar impian. Hanya mereka, malaikat-malaikatmu yang dirumah yang mampu membuat hidupmu berwarna. Kau tak lihat terkadang malaikat tak bersayap tak cemerlang tak rupawan. Dan malaikat tahu siapa pemenangnya."
***
Berikut syair lagu yang sedang saya putar berulang-ulang.
Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri..
Cintakulah yang sejati
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta tuk terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi..
Karna tak sanggup sendiri
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu..
Aku kan jadi juaranya
***

28 Oktober 2008

Melumat Pinangan

BERJALAN dengan membawa nampan yang berisi bingkisan dalam iringan keluarga besar peminang membuat jantung saya berdebar. Berdebar karena inilah kali pertama saya ikut serta dalam acara meminang seorang gadis, yang kedua saya belum pernah dipinang, ketiga perbedaan budaya membuat saya makin berdebar dan waspada.

Sedikit tentang meminang menurut http://culture.melayuonline.com , istilah meminang digunakan karena buah pinang adalah bahan utama -selain sirih, kapur, tembakau- yang dibawa saat acara meminang. Buah pinang adalah lambang untuk laki-laki dan sirih adalah lambang untuk perempuan. Diharapkan seperti saat makan sirih, akan terasa tidak lengkap tanpa pinang begitu juga sebaliknya, artinya diharapkan laki-laki dan perempuan (baca: suami dan istri) saling melengkapi, bersatu dan tidak dapat dipisahkan.

Kembali ke pinangan malam itu. Memasuki rumah si gadis, satu persatu kami meletakkan antaran, dimulai dari pinang dkk, rajangan pandan dan bunga, kue, kemudian beberapa bingkisan. Kemudian wakil dari masing-masing pihak duduk berhadapan, dan dimulailah acara mendebarkan itu.
Acara pinangan ini menggunakan tradisi Melayu, pihak perempuan diwakili oleh seorang bapak dari suku Jawa, pihak laki-laki diwakili oleh seorang Dayak yang sudah naik haji dan lama tinggal di Tanjung Pinang.
Terjadilah kekonyolan-kekonyolan. Haji Dayak melantur entah kemana, dia malah menceritakan biografinya, Bapak Jawa dengan terkagum-kagum mendegarnya kisah hidup pak Haji. Saat masih terkagum-kagum, Haji Dayak memberikan pinang dan kemudian disambut dan dilumat oleh Bapak Jawa. Ya Bapak Jawa sebagai wakil perempuan telah melumat pinangan dari pihak laki-laki.
Tahukah bahwa ketika wakil pihak perempuan menerima dan melumat pinang menandakan bahwa pinangan telah diterima? Hehehe..trik Haji Dayak ini sangat jitu, memanfaatkan ketidakpahaman seorang Jawa tentang tradisi pinangan Melayu:)
Setelah Bapak Jawa melumat pinangan, orang-orang berucap Alhamdulillah, dan dia pun kebingungan, kgkgkg...:)
Belum usai Bapak Jawa melumat pinangan, tanpa diminta seorang ibu bergerak ke tengah ruangan mengambil sirih, mengoleskan kapur, menambah pinang dan memberikannya pada saya, "Ini Ayu, supaya cepet nyusul". Dengan terkejut, saya terima pinang sirih itu kemudian saya lumat sambil menebarkan senyum ke penjuru ruangan, "Oh... semoga saja Bu" dan serempak mereka mengucapkan "Amin..."
Ternyata tidak berhenti pada melumat, seorang ibu kemudian mengambil nampan berisi rajangan pandan dan bunga, kemudian memberikan segengam rajangan itu kepada saya, "Ini juga Yu, supaya komplit, supaya cepet nyusul".
Oh ibu-ibu...

Malam itu saya melumat pinangan dengan penuh harap:)

23 Oktober 2008

Ternyata Saling Cinta

UNTUK sahabat-sahabat:

Nai -ular berbisa yang saya kasihi-, Ibnu -adik yang sangat saya sayangi-, Sigit -yang saya cintai-, Suci -sahabat yang selalu berusaha untuk saya jaga-.

Ketidakwarasan pada d membuat saya dan juga kalian yang juga sempat tidakwaras karena d menyadari bahwa ternyata kita saling cinta.
(ingin menulis kericuhan semalam, tapi tidak ingin membuat ketidakwarasan hadir lagi:))

Potongan lirik Sahabat Kecil-Ipank ini untuk kalian:
bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya, janganlah berganti, tetaplah seperti ini...
Love u all (and d) :)

Catatan:
Sigit tidakwaras pada d
Nai tidakwaras pada d(sb)
Ayu tidakwaras pada d(ll)
Ibnu tidakwaras pada d(kk)
Suci tidakwaras pada d(st)

*gambar diunduh dari www2.kompas.com/gayahidup/news/0606/05/205347.htm

02 Oktober 2008

Rendang dan Cerminan Hati

Lebaran lagi, mudik lagi, berkumpul lagi, makan-makan lagi, ketupat opor rendang lagi. Tiga makanan diatas adalah sajian wajib saat merayakan hari kemenangan, Idul Fitri. Meski tidak berlebaran, tidak mudik, tidak berkumpul, namun tradisi ketupat opor rendang saya jalankan.

Saat gema takbir berkumandang dan kembang api menghiasi langit, saya berkutat di dapur. Memasak rendang. Potongan daging, bumbu jadi, santan, garam dan sedikit penyedap, saya pertemukan dalan sebuah wajan dan saya biarkan api menunaikan tugasnya.

Tengok, aduk, tinggalkan. Tengok, aduk, menambah santan, kemudian saya tinggalkan lagi. Begitu terus, berulang-ulang. Entah berapa kali menengok, mengaduk, menambah santan atau air, namun daging tak kunjung empuk. Tidak sabar dan mulai putus asa. Mulailah saya menyusun rencana-rencana gila; pertama, jika dalam satu tayangan sinetron daging tidak empuk, maka calon rendang ini akan saya gepuk (pukul) sehingga daging menjadi pipih seperti dendeng. Rencana kedua, daging rendang akan saya basuh dengan air untuk menghilangkan bumbunya, saya potong kecil, kemudian saya masak sop, sop daging eks calon rendang:)

Dalam satu tayangan sinetron saya menunggu. Tidak menengok, tidak mengaduk, tidak menambah santan, saya biarkan api bekerja. Tepat satu tayangan sinentron usai, saya mengintip ke wajan, santan telah susut, daging empuk, dan nampak seperti rendang di RM Padang.

Haru...
Bergegas menyendok nasi, mengambil potongan daging, dan memulai menikmati hasil karya.

Auw..., asin. Benar-benar asin. Jauh dari nikmat, tidak karuan.
Gagal, ya malam itu saya gagal memasak. Rasanya seperti pukulan, mengingat saya cukup pandai memasak.

Mengapa asin? Mengapa (rasa) tidak karuan?

Ibu saya pernah berkata bahwa (rasa) masakan mencerminkan suasana hati si pemasak.
Hmm... apakah suasana hati saya sedang tidak karuan (baca: tidak baik )?
Entahlah...
Yang pasti suasana hati saya tidak asin:)

Pelajaran berharga yang dipetik dari memasak rendang malam itu adalah bahwa dalam mengerjakan sesuatu (lebih-lebih memasak, lebih-lebih lagi memasak rendang) harus dengan ketenangan hati dan kesabaran (dan juga jangan percaya pada bumbu jadi, pastikan rasa garamnya).

Mari menenangkan hati dan bersabar diri.

Mari memasak rendang dan bercermin:)

16 September 2008

SELINGKUH

Topik selingkuh sedang ramai di blogdetik, klik http://www.detik.com/.

Bahkan hampir setiap hari blog pilihan dan blog terbaru blogdetik bertemakan selingkuh, seperti hari ini berjudul "Ancaman Perselingkuhan".

Bukan cuma ramai di blog ternyata ramai terjadi pada orang-orang sekitarku. Mereka (laki-laki beristri) datang padaku dengan kisah hubungan mereka dengan perempuan lain.

Mengapa berselingkuh?

Entah, aku tidak mencari jawabannya dari para laki-laki itu. Karena pada dasarnya mendengar mereka bercerita tentang perselingkuhannya saja sudah cukup membuatku muak apalagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Yah, daripada membaca blogku yang ga jelas tentang perselingkuhan, silahkan berkunjung http://aneka-ragam.blogspot.com/2008/08/serong-sensasi-dan-masokisme.html, blog milik Sg.
Hindari selingkuh, Karena Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah, hehe..lagu banget.

Btw, mengagumi laki-laki beristri dan sering (saling) berkirim pesan singkat selingkuh bukan ya? Atau akan menjadi seperti blog pilihan hari ini, "Ancaman Perselingkuhan"?
Kgkgkg..:)

Tidak....

05 September 2008

Dalam Bis: Mengamati dan Mencuri Dengar

KE kantor tidak lagi bersepeda, kini dengan bis. Menggunakan bis pada jam yang sama dari Senin s.d Jumat, membuatku bertemu dengan orang-orang yang sama.

Mbak Perawat
Di halte Kara aku akan bertemu mbak perawat yang memakai sepatu plastik plus kembang, mirip sepatuku. Mbak ini turun di halte Kampus, namun sampai sekarang aku belum menemukan rumah sakit atau klinik disekitar halte itu.

Ibu PNS
Yang menarik dari ibu ini adalah tas yang hampir tiap hari berbeda dan selalu dari merek mahal.

Mbak Cuek (seperti cuek dan ulekan ya?)
Pakaian yang dikenakannya selalu menarik. Pagi ini dia menggunakan jeans, kemeja hitam, syal putih, tas hitam dan sepatu putih. Yang tidak menarik adalah si mbak tidak pernah mengucapkan terima kasih pada supir bis saat dia turun di halte Tembesi.

Mbak (belagak) Sexy
Nah yang ini, weh weh... Setiap hari menggunakan rok -bentuknya bermacam-macam, ada yang super ketat, berbentuk A, berumbai-rumbai dibagian bawah, kadang yang belahannya sampai setengah paha-, sepatu hak tinggi, dan kuku-kunya dipoles menggunakan cat kuku yang bergliter.
Sebentar-sebentar dia merapikan rambutnya, menyisir, mengikat, kemudian digerai lagi, merapikan dengan jari, seperti orang yang obsesive-compulsive.
Pagi ini aku mengamati dan menghitung gerakan merapikan rambut, dalam 3 menit dia melakukan gerakan menyisir dengan jari sebanyak 16x, belum termasuk merapikan poni.

Dan ternyata Mbak Cuek n Mbak Sexy saling mengenal, suatu pagi mereka saling menyapa.
Mbak Sexy berkata, “Hi Djeng, pa kabar lu?”. Belum mendapat jawaban dia berkata lagi, “ Gw n orang kantor mo ke Pinang 30 Sept ini, lu ikutan ga?”
Mbak Cuek menjawab, “Gw ga libur”
(aku menulis percakapan mereka dengan gaya kaku Christoper, tokoh Insiden Anjing Di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran)
Isi percakapannya ga aneh, tapi yang terdengar asing adalah penggunaan gw-lu. Di Batam orang akan menggunakan aku-kau, aku-dikau, aku-awak, saye-awak, bukan gw-lu.

Ah sudahlah terlalu banyak mengamati dan mencuri dengar membuatku makin gila.

Dalam bis, lebih baik menatap langit di kaca jendela.
Tapi kebanyakan menatap langit membuatku kebablasan pagi ini.
Wkwkwk...GJ:)



Sapedah | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id