Dalam blognya Fajar berkisah tentang lawatan kami ke Karimun dengan mellow. Ia menggambarkan kekaguman dan perasaan hatinya seperti ini:
“Terima kasih Karimun, Goweser Karimun sungguh mengagumkan, ada sekitar 5 - 7 orang yang tergolong lansia (maaf) karena sudah 60an tahun ke atas, tapi semangat mereka RRUUARRR BIASA. Dan juga kami terkagum dengan keramahan mereka semua..... Big Thanks for you all Karimun Cyclist tak lupa suguhan di garis pinish/finish (Teh O, Telor Rebus dan Kacang Hijau) sungguh "JOSS"
Thanks Karimun, engkau telah mengisi kisi-kisi mimpi nyataku”
Berbeda dengan Fajar, Bung Heski bercerita tentang kunjungannya melalui foto-foto cantik. Dua puluh sembilan foto yang ia unggah di blognya menggambarkan leburnya goweser Batam dan Karimun dalam sebuah semangat, keelokan lintasan granit, keunikan bus (truk) Karimun, serta kehangatan dan keriangan kami.
Membaca ke-mellow-an Fajar dan kecantikan foto-foto Bung Heski membuat saya tergelitik untuk turut berkisah. Berbeda dengan mereka, saya mencoba menggambarkan kuliner dan kehidupan malam sebagai nafas Karimun.
Penduduk Karimun menjadikan waktu makan bak hiburan, hanyut dalam tiap detiknya dan tak ingin menyudahi. Hari diawali dengan bunyi denting sendok yang beradu dengan gelas atau piring dikedai-kedai kopi dan makanan. Aroma bumbu kacang mie lendir, wangi roti prata, dan harumnya kopi mengisi udara pagi. Beranjak siang kedai-kedai akan semakin sesak dengan orang-orang yang lagi-lagi menikmati kopi. Kopi yang disajikan dalan cangkir kecil ini tidak bisa menunjukkan pergantian waktu. Pagi atau siang, pun malam diisi dengan kopi. Selain kedai-kedai kopi, disiang hari godaan juga datang dari warung-warung yang menjual masakan cina yang tentu saja hanya bisa dinikmati kalangan terbatas. Menjelang senja, kuliner Karimun makin marak. Sebuah gang ditengah kota hiruk dengan pedagang makanan. Pesta perut dimalam hari bukan hanya marak pada sebuah gang namun juga meriah di pujasera-pujasera tepi laut.
Bagitulah, urusan perut di Karimun memang tidak pernah padam.
Setelah urusan perut terpenuhi kemudian berpindah ke bawah perut. Ya satu lagi nafas Karimun, kehidupan malam, seksualitas dan erotisme.
Memasuki Tanjung Balai Karimun, pendatang akan dikejutkan dengan deretan hotel (murah dan juga murahan) serta panti-panti pijat yang saya pikir bukan hanya menawarkan sekedar pijatan. Di kota wisata sex ini saya tercengang, saya menyaksikan langsung seorang pekerja seksual bertransaksi dengan kliennya. Saya semakin dikejutkan saat berada disebuah lobi hotel, seorang perempuan -dengan pakaian yang mengugah iman- mendatangi receptionist dan berkata dengan volume suara yang bisa didengar bukan hanya oleh si receptionist “Aku dibuking kamar 205”.
Yang saya, Fajar dan Bung Heski tulis menggambarkan keterasingan kami di Karimun. Kami tercengang sekaligus terpukau pada keunikan dan erotisme Karimun.
Selayaknya musafir, setiap perjalanan selalu menyisakan kegembiraan baru.









