Tampilkan postingan dengan label Sepeda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepeda. Tampilkan semua postingan

20 November 2008

Karimun; Dalam Tiga Kisah


Kisah goweser Batam di Karimun. Tidak selalu tentang kayuhan.

SEBAGAI pesepeda, tentulah sebagian catatan perjalanan saya dan mereka ke Karimun beberapa waktu lalu berisi tentang dunia sepeda. Namun tidak semua melulu berkisah tentang kayuhan.

Dalam blognya Fajar berkisah tentang lawatan kami ke Karimun dengan mellow. Ia menggambarkan kekaguman dan perasaan hatinya seperti ini:
“Terima kasih Karimun, Goweser Karimun sungguh mengagumkan, ada sekitar 5 - 7 orang yang tergolong lansia (maaf) karena sudah 60an tahun ke atas, tapi semangat mereka RRUUARRR BIASA. Dan juga kami terkagum dengan keramahan mereka semua..... Big Thanks for you all Karimun Cyclist tak lupa suguhan di garis pinish/finish (Teh O, Telor Rebus dan Kacang Hijau) sungguh "JOSS"
Thanks Karimun, engkau telah mengisi kisi-kisi mimpi nyataku”

Berbeda dengan Fajar, Bung Heski bercerita tentang kunjungannya melalui foto-foto cantik. Dua puluh sembilan foto yang ia unggah di blognya menggambarkan leburnya goweser Batam dan Karimun dalam sebuah semangat, keelokan lintasan granit, keunikan bus (truk) Karimun, serta kehangatan dan keriangan kami.
Foto-foto cantik Karimun bisa dilihat di http://hmanginsela.multiply.com/photos/album/23

Membaca ke-mellow-an Fajar dan kecantikan foto-foto Bung Heski membuat saya tergelitik untuk turut berkisah. Berbeda dengan mereka, saya mencoba menggambarkan kuliner dan kehidupan malam sebagai nafas Karimun.

Penduduk Karimun menjadikan waktu makan bak hiburan, hanyut dalam tiap detiknya dan tak ingin menyudahi. Hari diawali dengan bunyi denting sendok yang beradu dengan gelas atau piring dikedai-kedai kopi dan makanan. Aroma bumbu kacang mie lendir, wangi roti prata, dan harumnya kopi mengisi udara pagi. Beranjak siang kedai-kedai akan semakin sesak dengan orang-orang yang lagi-lagi menikmati kopi. Kopi yang disajikan dalan cangkir kecil ini tidak bisa menunjukkan pergantian waktu. Pagi atau siang, pun malam diisi dengan kopi. Selain kedai-kedai kopi, disiang hari godaan juga datang dari warung-warung yang menjual masakan cina yang tentu saja hanya bisa dinikmati kalangan terbatas. Menjelang senja, kuliner Karimun makin marak. Sebuah gang ditengah kota hiruk dengan pedagang makanan. Pesta perut dimalam hari bukan hanya marak pada sebuah gang namun juga meriah di pujasera-pujasera tepi laut.
Bagitulah, urusan perut di Karimun memang tidak pernah padam.

Setelah urusan perut terpenuhi kemudian berpindah ke bawah perut. Ya satu lagi nafas Karimun, kehidupan malam, seksualitas dan erotisme.
Memasuki Tanjung Balai Karimun, pendatang akan dikejutkan dengan deretan hotel (murah dan juga murahan) serta panti-panti pijat yang saya pikir bukan hanya menawarkan sekedar pijatan. Di kota wisata sex ini saya tercengang, saya menyaksikan langsung seorang pekerja seksual bertransaksi dengan kliennya. Saya semakin dikejutkan saat berada disebuah lobi hotel, seorang perempuan -dengan pakaian yang mengugah iman- mendatangi receptionist dan berkata dengan volume suara yang bisa didengar bukan hanya oleh si receptionist “Aku dibuking kamar 205”.
Keterkejutan saya bukan hanya dilingkungan hotel, namun juga di apotik. Mendapati seorang laki-laki membeli bermacam-macam antibiotik untuk perempuan yang digandengnya. "Minum ini supaya tak sakit" begitu kata si laki-laki.
Auw..., bodohnya. Ingin sekali mengatakan pada mereka bahwa minum antibiotik tidak dapat melindungi diri mereka dari penyakit menular seksual dan HIV.
Beberapa hal yang saya tuliskan diatas sudah menjadi bagian sehari-hari Karimun. Kehidupan malamlah yang menggairahkan kota ini, membuat kota kecil ini tetap berdenyut.

Yang saya, Fajar dan Bung Heski tulis menggambarkan keterasingan kami di Karimun. Kami tercengang sekaligus terpukau pada keunikan dan erotisme Karimun.
Selayaknya musafir, setiap perjalanan selalu menyisakan kegembiraan baru.

02 November 2008

(Bukan) Hanya Ada Sepeda Diantara Kami

SAYA tiba di rumah saat sudah lewat tengah malam. Sebuah kantong plastik berisi bungkusan nasi dan olahan udang menemani saya melambai pada mereka. Mereka, suami-istri yang saya kenal dari bersepeda.
Beberapa jam sebelumnya, saya dikunjungi si istri. Sore itu ia datang bersama tiga buah hatinya. Ia datang membagi keramaian untuk menghapus kesepian saya. Memang menjadi ramai, ramai karena buah hatinya larut dalam dunia anak-anak (baca: memporakporandakan isi rumah) dan kami ramai dengan berbincang perihal dunia perempuan, indahnya dunia sepeda, anak-anak mereka, keunikan sigaran jiwanya, dan kebahagiannya sebagai istri dan ibu. Diluar perbincangan tentang dunia sepeda, perbincangan saya dengannya mengingatkan saya pada dua kakak perempuan yang saya rindukan.
Belum ingin mengakhiri, ia dan saya memutuskan melanjutkan perbincangan dirumah mereka. Kali ini ditemani belahan jiwanya yang acap kali menuduh saya aneh, padahal saya pikir bahwa dosis keanehannya berlipat-lipat melebihi keanehan saya, ups maaf..:)
Dan bertiga kami pun larut dalam perbincangan yang melebar kemana-mana.
Dari perbincangan kami itu, semakin menegaskan pada saya bahwa kehangatan dan rasa kekeluargaan bisa saya dapatkan pada mereka. Entah bagaimana harus merangkainya dalam kalimat tulis, namun perbincangan yang kami mulai saat senja dan berakhir dini hari dengan sebuah kantong plastik membawa kesan bagi saya. Persahabatan saya dengan mereka tidak hanya sebatas pada kegiatan bersepeda.
Bukan hanya ada sepeda diantara kami.

27 Oktober 2008

Ke Duriangkang; Ke Hutan, Ke Danau, Ke Belukar dan Kehangatan

KEMARIN saya bersepeda ke Duriangkang. Mengingat banyaknya jalur-jalur offroad yang bisa dinikmati pesepeda di dalam kawasan Duriangkang, komunitas bersepeda Batam biasa menyebut jalur yang saya lalui kemarin dengan jalur Duriangkang 1 (mungkin penomoran dilakukan untuk memudahkan dalam mengingat rute).
Duriangkang 1 menurut saya adalah jalur bersepeda yang menyenangkan, tracknya tidak terlalu melelahkan, ada beberapa tanjakan serta downhill tapi tidak sampai menguras tenaga. Yang mempesona adalah di Duriangkang 1 saya menemukan alam yang saya rindukan, pada satu lokasi saya serasa pergi (dan menikmati) ke tiga tempat sekaligus; ke hutan, ke danau dan ke belukar.
Untuk dapat menikmati hutan, danau dan belukar, sebelumnya saya mengayuh beberapa km dari rumah menuju simpang bandara. Kemudian dari simpang bandara, masuk ke hutan melewati pos penjagaan yang kebetulan tidak dijaga, meluncur diatas tanah merah, kemudian terbenam di air waduk setinggi paha orang dewasa, dilanjutkan melintasi hutan dan disambut beberapa penghuni hutan seperti kera ekor panjang dan ular. Setelah hutan (lengkap dengan berbagai jenis kantong semar) saya disuguhi pemandangan menyejukkan, danau (baca:waduk). Andai saja bisa berlama-lama disana..
Usai melepas dahaga di danau, perjuangan dilanjutkan dengan membelah belukar, meski diantara perih yang menyayat kulit saya masih tetap menikmati jalur ini:)

Kemarin saya tidak sendiri menikmati yang mempesona itu, saya ditemani mereka, mereka yang penuh rasa persahabatan dan kekeluargaan. Mereka adalah Neng, Isa, Abah, Djenk Budi, Umar, Komar, Reni, Andi, Rudy, Pak Er, Pak Wibi, Pak Heski, Pak Haryoto, dan Pak Teguh. Mereka hangat.
Di hutan, danau dan belukar Duriangkang saya merasakan kehangatan mereka.

07 Oktober 2008

Kembali Bersepeda, Kembali Berpijar

Men Sana In Corpore Sano. Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

Dua minggu saya absen bersepeda, terasa sangat lama, terasa tidak sehat. Dua minggu ini jantung saya berdebar lebih cepat, perut membuncit, kulit pucat karena jarang terpapar matahari, ditambah lagi ketidakwarasan itu memperburuk kesehatan saya, dan saya meredup.

Penuh semangat untuk kembali sehat dan sehat, saya menerima ajakan bersepeda dua perempuan -Bu Budi dan Teteh Patra- yang sedang gila bersepeda.

Kembali Bersepeda

Pukul 05.15 WIB saya meninggalkan rumah, mengayuh sepeda ke Batuaji. Satu jam mengayuh sendirian, akhirnya saya bisa menyapa mereka di halte bus Pasar Sagulung. Morning ladies..., dan mereka tersenyum manis.
Perjalanan kami mulai, mengayuh sepeda melintasi Hutan Mata Kucing, Sei Harapan, Sekupang, dan akhirnya tiba di tempat tujuan kami, Kandang Rusa.
Sambil menikmati panganan Lebaran, kami melepas lelah. Rupanya kehadiran (dan makanan) kami menarik perhatian seekor rusa untuk mendekat. Jadilah pagi itu kami bertiga memberi makan rusa. Krutuk krutuk.. begitu bunyi makanan yang hancur digilas gigi-gigi si rusa jinak.

Selepas bermain dengan rusa, perjalanan kami lanjutkan ke Pasar Sei Harapan, mencari sarapan. Di pasar ini kami berputar-putar bingung memilih menu sarapan. Malas berputar lagi, malas bingung lagi, akhirnya kami memutuskan untuk menikmati Bakso dan Mie Ayam disamping sebuah toko kelontong. Toko ini mengingatkan saya pada Toko Sinar Harapan dalam Laskar Pelangi, toko yang penuh barang. Sepertinya pemilik toko seperti A Miauw, memiliki sakit jiwa no.28 yaitu menyimpan barang-barang tidak berguna. Meski dalam suasana hoarding toko serta ditambah tarian belatung dihadapan kami, sarapan kami pagi itu terasa nikmat.

Disela sarapan, sempat juga kami berbincang tentang perselingkuhan, ketidakpuasan laki-laki dan kebodohan perempuan. Ketika membahas kebodohan perempuan, Bu Budi berujar "Perempuan yang terlibat dalam perselingkuhan, harus siap menyakiti". Aku menatap Teh Patra dan berujar "Kita tidak siap menyakiti kan?". Fyuh.., obrolan pagi yang melelahkan.

Matahari meninggi, bergegas kami mengayuh sepeda ke arah Tanjung Riau, dan berpisah di Simpang Base Camp. Sabtu pagi yang menyenangkan.

Pengkhianatan di Hari Minggu

Minggu pagi saya berjanji pada Bu Budi untuk menemaninya menjajal Jalur Neng. Tapi janji tinggal janji, janji diatas ingkar, saya mengkhianati janji. Berkhianat padanya dengan mengirim pesan pendek mengabarkan bahwa saya tidak bisa menemaninya bersepeda di Jalur Neng dengan alasan tidak enak badan, namun pada kenyataannya saya membuat janji lain, bersepeda ke Sei Ladi bersama Teh Patra.

Pengkhianatan itu menyenangkan, oh maaf Bu..
Tidak bisa dipungkiri, saya benar-benar menikmati Sei Ladi -jembatan dan dam-, kemudian mampir ke Pura dan menyempatkan diri bersujud syukur, yang ternyata dapat membuat saya merasa tenang.


Bu Budi, Teh Patra, dan saya

Kembali Berpijar

Kembali bersepeda membuat saya kembali berpijar. Merasa menjadi saya, merasa lebih sehat, dan merasa bahagia.
Bersepeda telah memberi warna dalam hidup saya, warna yang membaur berganti.

22 Agustus 2008

Merdeka Bersepeda!!

"Bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa” (Pembukaan UUD 1945).
17 Agustus 2008, Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke 63. Seperti tahun-tahun sebelumnya, berbagai perayaan digelar. Mulai dari tingkat RT -seperti lomba makan krupuk, balap karung, lomba volley sampai karaoke-, sampai pesta tahunan yang penuh tarian daerah yang disiarkan langsung di layar televisi, serta acara yang terpenting adalah upacara peringatan kemerdekaan di istana negara.
Riuh, meriah, serta penuh hadiah...

“Bahwa kemerdekaan ialah hak setiap individu”:)
Dengan semangat kemerdekaan, kami -segerombolan bocah tua nakal yang riang bersepeda dari dari komunitas pesepeda Shinetsu, serta pesepeda yang pura-pura Shinetsu- menggunakan hak (merdeka) kami dengan bersepeda.
Merdeka bersepeda!!:)

Dengan kibaran bendera merah putih, dipagi yang sejuk dan keperakan (entah mengapa pagi itu berwarna perak, bukan keemasan matahari pagi) kami menggowes dari Batuaji ke arah Piayu.
Offroad. Memilih offroad Kampung Tengah karena disini kami benar-benar bisa menikmati kebebasan bersepeda. Merdeka menikmati downhill, merdeka dari rasa malu “tuntun bike” saat tanjakan:)


Tragedi Berdarah di Jalur Neng

Entah berapa banyak darah yang mengucur untuk kemerdekaan Indonesia. Tapi tak seharusnya kucuran darah terjadi untuk kemerdekaan bersepeda.
Neng jatuh saat dowhill. Kucuran darah membasahi wajah, 3 jahitan meninggalkan cerita dan tragedi ini memberi pembelajaran.
Namun yang mengagumkan setelah tragedi, semangat Neng untuk terus bersepeda patut diacungi jempol dan perlu disupport dengan pengetahuan bersepeda.
Untuk mengenang dan penghormatan pada semangat Neng, jalur Kampung Tengah dikukuhkan menjadi Jalur Neng.


Upacara Detik - Detik Kemerdekaan

Sepanjang sejarahku mengikuti upacara bendera, upacara tepi laut ini adalah yang terunik. Kami memebri hormat pada Sang Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya yang jauh dari merdu. Tidak perlu berpakaian resmi, tidak banyak aturan, upacara bendera yang sederhana dan terasa sangat ikhlas.
Merdeka Indonesiaku!!


Sempat terlontar kalimat yang menggelitik dari temen-temen Shinetsu.
“Merdeka!”
“Emang merdeka? Kita aja kerja di perusahaan Jepang”
“Grr...(tertawa)”
Hmm...sudahlah yang ini ga usah dibahas. Biarlah kemerdekaan, kemiskinan dan “penjajahan” dibahas oleh orang-orang diluar sana.

Terlepas dari tragedi berdarah dan kalimat diatas, offroad Jalur Neng sungguh membuat kami merasakan merdeka, merdeka bersepeda.

Disertai ucapan terima kasih, tidak lupa kucatatankan “Abah” sebagai the best sweeper I ever met:)
Terima kasih sudah menemani saat tuntun bike di tanjakan terjal dan saat mereka melaju meninggalkanku yang terengah jauh dibelakang.

22 Juli 2008

Jalur 8

Belakangan ini hujan sering hadir di Batam. Hujan membuat jalanan becek, tapi tidak menjadikan Batam sepi dari ojek (walah..Cinta Laura bgt):) Jalanan becek juga tidak menyurutkan pecinta sepeda untuk terus mengayuh, justru hasrat menggowes kian memuncak. Ada sensasi yang berbeda ketika mengayuh dibawah hujan dan diatas licinnya lumpur.

Minggu, 20 Juli 2008, dua puluh orang pesepeda ‘penikmat becek’, mengayuh sepeda melintasi genangan air dan licinnya jalanan yang berlumpur di jalur 8. Jalur ini dinamakan jalur 8 karena setelah dipetakan membentuk angka 8 (Start lapangan Genta - Kebun Sayur -Menyebrang Tanjakan Daeng - Blok R - Kawasan Industri - Bukit ??? - muncul lagi di pertigaan Blok R – finish jalan Jembatan I).

Start dari lapangan Genta pukul 06.45 WIB, kami melewati rute Kebun Sayur, dilanjutkan dengan menuntun sepeda di hutan Blok R, dan sejenak menikmati kecantikan mbak-mbak pekerja keras di Dormitori Muka Kuning.
Tidak berlama-lama, kayuhan segera dilanjutkan karena rute yang lebih melelahkan menanti didepan kami.
Kali ini tidak lagi 20 orang, peserta susut setengahnya dengan berbagai alasan.
Dari kawasan industri Muka Kuning, kami yang tersisa menggowes ke arah Piayu.

Dan perjalanan melelahkan namun menyenangkanpun dimulai...
Penuh tanjakan dan pastinya kami disuguhi pemandangan yang luar biasa dari ketinggian; Sei Ladi, kabel listrik yang membentang, Jembatan I, pulau-pulau serta laut Kepri, sungguh perpaduan indah yang menyegarkan.

Dari Ketinggian

Extra Kuah
Sampai di puncak, kami membuka perbekalan. Saat itu langit dengan mendung menggelayut, dan tidak perlu waktu lama untuk membuat makan siang kami menjadi sedikit berkuah, klo istilah Jawanya “nyemek”.

Selepas makan dan mendadak mbengkel karena RD belakang salah seorang peserta rusak akibat kemasukan sampah, perjalanan pun dilanjutkan dengan meluncur.
Weh...asik bgt, belum lagi ditambah tanah diroda dan kerikil jalanan melesat ke wajah. Pokoke mantab...
Perjalanan menyenangkan ini berakhir jam 13.00WIB dengan menempuh jarak sekitar 40Km.

Muda dan Penuh Semangat
Lelah hadir, ketika berjuang menghadapi tanjakan yang tak kunjung putus. Tapi ini tidak terjadi pada yang muda satu ini.
Adit, laki-laki kecil 18 tahun yang memiliki energi luar biasa saat mengadapi tanjakan. Bahkan dengan riangnya dia menyapa tanjakan dan meloncat-loncat saat downhill.
Hmm..melihatnya saja sudah lelah, apalagi melakukan seperti yang dikerjakannya, ga sanggup deh... Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan dengan tidak berdaya meminta bantuannya menggowes sepedaku keatas bukit dan aku berjalan kaki dengan tersengal dibelakangnya@_@
Hasratnya menjadi atlet sepeda perlu wadah, mudah2an ISSI Kepri bisa menjadi wadah potensinya.

Nenas
Oya, diakhir perjalanan tidak sengaja melihat hamparan kebun nenas. Wow....
Tapi sayang “mas nenas” ramalan Nai tidak ada disana. Cuma hamparan pohon nenas tanpa buah yang membisu.

Merajuk
Btw ada yang merajuk karena ga bisa gabung kegiatan ini.
Ketinggalan, ya secara mereka datang telat, dan yang lain sepertinya tidak sabar untuk menunggu lagi.
Hehe... sepertinya mereka menyalahkanku.
Waduh....

Lepas dari rajukan tadi, teman-teman yang menyenangkan, rute yang menantang dan cuaca yang bersahabat menjadi kunci “kenikmatan” jalur 8 ini.

Yuks offroad lagi...



16 Juli 2008

Jelajah Pulau Kundur

KEMBALI menjelajah pulau dengan sepeda.
Sabtu, 12 July lalu, bareng CCC (Customs Cycling Club) Balai Karimun menggowes jelajah Pulau Kundur.

Start dari Balai pukul 06.30 WIB, kami mengarungi tenangnya lautan Kepri.
Kapal yang kami tumpangi bergerak sangat pelan, alhasil perjalanan Balai-Ungkur (pulau Kundur) ditempuh lebih dari satu jam. Namun kejemuan perjalanan tidak kami (atau mungkin cuma aku) rasakan sedikitpun, karena sepanjang perjalanan rona langit, hangatnya mentari, siur angin dan cantiknya gugusan pulau, menciptakan daya pikat yang luar biasa. Dan yang juga menyenangkan adalah aku kebagian kaos CCC.
Weh.. "mendadak CCCC", tepatnya pura-pura CCC:)


Pada sebuah kapal

Tiba di Urung, sepeda langsung kami kayuh menuju Tanjung Batu*. Ga jauh sie cuma 18Km, tapi panasnya ampyun deh, belum lagi kaos yang kukenakan 2 lapis, kaos bawaan dr rumah ditambah kaos CCC.

Karena emang ga bisa ngebut, aku tertinggal jauh. Dan lagi-lagi menggowes sendiri , depan ga nampak, belakangpun tiada. Tapi justru karena sendiri aku punya kesempatan mampir di sebuah Mesjid, untuk melepas salah satu kaosku, sekalian numpang pipis:)
Gowes sendiri emang asik, tapi begitu tiba dipersimpangan dan ga tempat untuk bertanya, mumet juga.
We alah..., aku tersesat di kota kecil, ga lucu:(
Syukurlah, sweeper menyambangiku, hehe.. ternyata aku kelewatan satu tikungan, geblek..:)

Di sebuah resto pinggir laut kami bersantai sejenak, menikmati hangatnya teh, pocari sweat, n kue sambil menatap kapal n gugusan pulau dibatas pandang.
Belum puas bersantai, sebuah pemberitahuan mengusik ketenangan "5 menit lagi perjalanan dilanjutkan", weh....

Dari Tanjung Batu ke Pantai Sawang*, 18Km lagi tapi puanas polllll.....
Lagi-lagi menjadi yang terakhir tiba, dan sepertinya sweeper rada ga sabaran, hiks jadi ga enak hati:(

Tiba di Pantai Sawang, langsung disambut dengan udang dan cumi goreng tepung, ayam goreng, lalapan, tahu tempe goreng, dan yang mantap adalah ikan asam pedas, nyam...

Bersiap makan

Usai makan siang, gowes lagi sejauh 28Km menuju Selat Beliah, tujuan akhir kami karena disana Kapal lelet yang sangat berguna itu telah menunggu.
Ternyata ada beberapa hal yang membuat ga nyaman selama perjalanan, tapi sudahlah karena seperti itulah dinamika bersepeda:)

Keseluruhan, gowes jelajah Kundur ini menyenangkan.
Gowes plus dolan:)



Kakipun mencatat
* Tanjung Batu
Kota kecil di Pulau Kundur, secara administartif dibawah Kabupaten Karimun Kepualauan Riau. Kotanya bersih dan lebih rapi daripada Balai yang sesak dengan hotel esek-eseknya.
Kota ini bertabur buah-buahan, mulai durian, rambutan, dan jambu. Wah pokoke bagi pecinta durian, durian Tanjung Batu pasti akan membuat air liur "kemecer":)
*Pantai Sawang
Cukup indah, pasir putih dan air laut coklat susu:)
Dari pantai ini, kita bisa menatap pulau-pulau diseberang yag secara administratif sudah masuk wilayah Riau.
Yang menarik dari tempat ini adalah resto pinggir lautnya, oya jangan lupa mencoba menu ikan asam pedasnya. Yummy...:)

Pantai Sawang

03 Juli 2008

Never Ending Cycling

BERSEPEDA lagi, lagi dan lagi....

Hari-hariku di bulan Mei dan Juni penuh dengan kegiatan bersepeda. Ga cuma mubeng-mubeng di Batam tapi nyebrang pulau juga. Seru...:)

Dan kucatatkan lagi kegiatan bersepedaku di diary ini sebagai berikut:

Ke Pancuran Kami Menggowes

Sekitar akhir Mei 2008 kemaren, bersama teman-teman mtb-batam aku mencoba rute baru yang bener-bener seru, yaitu pancuran yang lokasinya di tengah hutan lindung Batam.
Bersama Pak Wibi menggowes sekitar 9Km dari rumah ke lapangan Genta tempat meeting point kami, sempat beristirahat sebentar di lapangan sambil menunggu kedatangan goweser lain. Begitu peserta dirasa cukup, dan ke pancuran kami menggowes.

Sapaan awal rute pancuran adalah tanjakan dan downhill kebun sayur, dilanjutkan dengan senyum manis kubangan air bercampur lumpur serta gonggongan anjing penjaga kebun. Tak cukup sampai disana, pandan berduri dan rawa juga menyambut kedatangan kami, dan dengan penuh kesantunan setiap beberapa meter kami harus turun dari sepeda dan menyapa pohon yang melintang di tengah jalan. Fyuh... Setelah beberapa jam perjalanan diselingi insiden tunggangan Mas Andree yang gembos, tibalah kami di pancuran yang kami impikan. Wah, tempatnya membuat hati jadi adem dan serasa tidak ingin kembali ke rutinitas.

Setelah berkecipuk dengan air, tak lupa kami menikmati bekal yang kami bawa, pop mie. Mendadak pop mie terasa seperti makanan enak di restoran mahal:)

Waktu sudah menujukkan pukul 11.00 WIB, saatnya kembali. Oh...bagian yang paling tidak menyenangkan. Syukurlah cuaca sangat bersahabat dan diperjalanan kami disambut dengan gerimis. Ya, musim penghujan memang sering hadir tanpa pesan.

Oya pada perjalanan ini selain insiden ban gembos, kejadian kaki kram juga ada. Salah seorang peserta mengalami kram, duh mesti sakit banget ya.. Dan kembali lagi aku bersyukur, sampai detik ini aku tidak pernah merasakan nyeri karena kram otot.
Gowes kali ini bener-bener seru, brangkat dari rumah 05.30 WIB, tiba lagi di rumah 14.00 WIB. Trully GS:)


Kubangan, Pancuran, dan Kebersamaan


Sepeda Lingkar Batam

Di awal Juni, b2w chapter batam punya gawe. Mengajak semua pecinta sepeda gowes mubeng Batam. Rencananya sie sekitar 70km onroad, tapi di hari H semua berubah, bukan cuma jarak tempuh tapi rutenya juga. Untukku perubahan ini sangat menyenangkan, karena bisa hemat 30km dan hemat tenaga tidak perlu menghadapi rangkaian tanjakan di daerah Tiban.

Disetiap kegiatan pasti ada cobaan, ga lepas di acara ini juga ada insiden dimana seorang peserta dari kepolisian jatuh pingsan hanya beberapa meter di depanku. Pesan moralnya apa ya? ya lebih banyak gowes lagi Pak, supaya stamina terjaga baik:)
Foto bersama


Dari Gowes Jadi Piknik

Minggu berikutnya adalah gowes ke Tanjung Pinggir. Menjadi seru karena teman-teman Vietnamese-ku pada ikutan dan mereka membawa pancing, jaring ikan, mie, telur, air, dan panci untuk memasak. Awalnya yang cuma niatan gowes bareng mereka, berubah jadi piknik yang menyenangkan:)

Oya selain menawarkan wisata patung Dewi Kwan In terbesar dan pantai yang berhadapan langsung dengan gedung pencakar langit Singapore, Tanjung Pinggir juga menyimpan tempat yang elok, yaitu danau beserta hutan mangrovenya. Dan disinilah kami piknik, tidak lupa dengan sepeda kami memutari kawasan ini.

Memasak dan mengamati jaring ikan

Sepeda Jelajah Pulau

Nah kali ini ga cuma nyepeda di Batam, tapi nyebrang kepulau lain, tepatnya ke Tanjung Balai Karimun. Bersama si Koni tersayang aku mengarungi lautan cuma buat gowes. Wah wah bener-bener gila:)

Di Balai, aku dan Koni disambut Umar, seorang sahabat yang penuh semangat bersepeda. Setelah seharian mubeng-mubeng plus niteride di kota Balai yang kecil, minggu pagi dibawah gerimis hujan aku, Umar, Tegil dan Arman bersepeda ke pantai Pelawan. Dari Balai jaraknya sekitar 20Km dan relatif datar. Seru, apalagi setiba di pantai kami disuguhi pasir putih dan bentangan cakrawala yang indah. Seandainya saja bisa berlama-lama...

Sepanjang jalan ke Pelawan banyak hal yang bisa kami amati yang ga bisa ditemui ditempat lain, yang paling khas adalah lintasan granit dia atas kepala, ga ada di Batam, ga ada di Pinang, tidak juga kutemui di Jogja dan Bali, hanya di Balai Karimun:)

Di Tanjung Balai Karimun

Selanjutnya gowes kemana?

Gowes yang tak kunjung usai:)

01 Juli 2008

Tips Merawat Sepeda

Apabila anda memiliki kemauan dan waktu, berikutnya adalah tips untuk merawat sepeda, siapkan kunci allen satu set, pembuka rantai, kuas cat kecil, sikat gigi bekas, sikat lantai kamar mandi, degreaser, dan lubricant. Semua peralatan ini dapat anda beli toko sepeda langganan anda, kecuali sikat gigi bekas dan sikat lantai, tentu saja.
Cuci bersih sepeda dengan cara menggunakan air dari selang dengan tekanan sedang. Jangan pernah mencuci sepeda sekotor apapun dengan menggunakan air bertekanan tinggi (steam). Air bertekanan tinggi akan membuat air masuk ke sela - sela komponen dan tidak dapat dikeluarkan dengan mudah. Selain itu penggunaan steam akan membuat grease lepas dari perlekatan dengan komponen misal bearing, peluru besi (gotri) yang seharusnya dilindungi.
Pakailah sabun atau paling bagus shampoo cuci mobil/motor. Gunakan sikat lantai untuk merontokkan dan membersihkan ban dari lumpur kering dan kotoran lain. Ingat sikat yangterlalu kaku bisa melukai permukaan ban dan bahkan meninggalkan bekas parut. Pergunakan sikat gigi bekas untuk membersihkan bagian - bagian yang sulit dijangkau seperti tube seputar front derailleur, bagian dalam cassete, dan lain - lainnya. Bersihkan cassete dan rantai dengan kuas sambil disemprot dengan air dari selang.
Segera keringkan frame sepeda dengan kain khusus penyerap air. Coba miringkan sepeda ke kiri dan kanan untuk membuang air yang terperangkap masuk. Tidak lupa berdirikan sepeda dengan roda belakang beberapa saat untuk mengalirkan air yang tersisa. Beberapa pabrikan sepeda membuat lubang buangan air di beberapa bagian frame untuk memudahkan air mengalir keluar. Silakan dilihat dan dicermati bagian mana saja itu. Biasanya di chainstay bagian dalam dekat dengan free hub, kemudian bottom bracket bagian bawah. Untuk pemakai hollowtech II, pastikan tidak ada air yang tertinggal di dalam as bottom bracket tsb.
Langkah selanjutnya, lepaskan rantai dengan bantuan alat pembuka rantai. Semprot dengan degreaser. Jangan gunakan WD-40 kecuali memang kondisi rantai anda telah benar-benar parah, misal karatan. Gantung rantai dan biarkan beberapa saat sampai seluruh sisa kotoran yang menempel luruh. Jangan semprotkan degreaser selama rantai masih terpasang. Ini berisiko cairan masuk ke as bb atau freehub dan melarutkan grease yang terpasang.
Jangan pernah gunakan minyak tanah untuk membersihkan rantai, cassete dan crankset. Selain minyak tanah semakin jarang didapatkan juga berisiko membuat beberapa bagian komponen khususnya yang terbuat dari karet serta plastik elastis akan mengeras dan bahkan bisa kehilangan fungsinya.
Tunggu sampai rantai benar - benar kering dan bersih. Setelah itu lumasi dengan lubricant khusus rantai. Biasanya ada dua tipe, kering dan basah. Pergunakant tipe basah saat sepeda sering dipergunakan di trek basah. Begitu sebaliknya. Setelah itu pasang kembali rantai ke tempatnya.
Berikan lubricant di daerah derailleur baik depan dan belakang. Cobalah mainkan shifter dan pastikan keduanya berjalan dengan sempurna. Terkadang anda harus melakukan fine tuning setelah sepeda dipergunakan di medan yang berat.
Selagi menunggu rantai kering, anda dapat merawat frame dengan memberikan zat pelapis frame. Polisher ini ada yang dilengkapi dengan teflon untuk melindungi frame dari cacat akibat benturan benda keras seperti kerikil. Setidaknya itu yang tertulis di dalam label kalengnya. Seberapa efektifkan? Harus diteliti terlebih dahulu.
Lakukan pengecekan beberapa bagian komponen dengan alat/kunci yang sesuai. Hampir semua sepeda keluaran baru menggunakan allen key. Cek stem, headset, handlebars, rd, fd, dan semua bagian mekanis. Pastikan semuanya telah terpasang dengan baik dan tidak kendor.
Berapa lama waktu yang dihabiskan untuk melakukan itu semua? Tergantung kepada seberapa teliti dan sabar anda. Setidaknya akan menghabiskan 2 jam di luar waktu pengeringan rantai. Beberapa goeser bahkan membiarkan rantai kering selama 24 jam sebelum diberikan lubricant dan dipasang kembali. Itu sih terserah kepada anda semua.
Semoga bermanfaat .....
(dari milis mtb-batam)

Aman Berkendara MTB

Besepeda di gunung tidak sama dengan bersepeda di jalan raya. Banyak teknik yang harus dipelajari dan harus diterapkan. Apalagi dengan tambahan trek downhill (turunan), berbatu, licin, berkelok, jurang dan sebagainya. Berikut yang harus anda persiapkan.

1. Periksa Kesiapan anda
Sepeda anda adalah soulmate anda. Jadi periksa ulang tunggangan anda mulai dari ukuran sepeda yang sesuai, rem, frame, gigi, sampai tekanan ban. Cek agar semuanya benar-benar siap tempur dan comfortable. Jika kita tidak pede dengan ukuran sepeda kita , bagaimana mungkin kita pede untuk ngebut?

2. Gunakan Aksesori pengaman
Selalu gunakan helm, kaca mata, sarung tangan, sepatu MTB, kalau perlu gunakan full body armor atau minimal shin/knee/elbow guard. Anda tentu tidak ingin debu atau serangga masuk ke mata anda? Atau dahan pohon mengenai kepala yang tanpa helm? Pikiran positif akan membuat lebih focus dan konsentrasi pada sepeda.

3. Selalu waspada di depan anda
Usahakan selalu melihat beberapa meter ke depan. Semakin cepat maka semakin jauh melihat ke depan, sehingga kita bias scan medan, serta punya waktu untuk membuat respons terbaik. Jangan terlalu focus pada satu titik, tetapi teruslah mencari medan terbaik di depan dan tetap konsentrasi , buatlah keputusan secepatnya.

4. Bunny Hop
Bunny hop sangat penting untuk mengubah arah atau melewati rintangan yang terlalu bumpy. Oleh karenanya banyak sekali MTB riders yang menyukai bunny hop. Jadi berlatihlah. Biasanya tidak diperlukan bunny hop tinggi dalam kecepatan tinggi.

5. Biarlah sepeda bekerja untuk anda
Terpenting adalah pastikan titik berat badan anda tetap di pusat sepeda. Selanjutnya biarkan sepeda yang menari-nari di bawah. Tangan tetap menggenggam handle bar dengan mantap, lengan dan kaki rileks tetapi siap meredam guncangan.
Agar berat badan tetap pada pusat sepeda, usahakan untuk mengurangi duduk di sadel, Semakin tajam turunannya berarti posisi badan samakin mundur ke belakang sadel. Posisi ini akan memberi traksi lebih pada ban belakang dan tenaga pengereman sehingga meningkatkan control sepeda. Latihlah upper body dan kuda-kuda kaki. Kuda-kuda kaki juga penting untuk meredam guncangan.
(sumber: Bulletin Board Doey)

Gaya Bersepeda yang Paling Efisien

Mengunduh dari Bulletin Board milik Doey, temen fs-ku.

Bersepeda merupakan metode paling efisien dalam penggunaan kalori. Dan akan lebih efisien lagi jika menggunakan berbagai konsep fisika.

Belanda yang tanahnya datar, sepeda merupakan transportasi yang baik dan menyehatkan. Di Cina yang penduduknya lebih dari 1 miliar orang, sepeda merupakan alat transportasi yang dapat menghemat penggunaan bahan bakar. Bayangkan, apa yang terjadi dengan persediaan bahan bakar kita kalau setengah penduduk Cina menggunakan mobil?

Di banyak tempat, sepeda memang bukan transportasi utama, tetapi kendaraan yang dibuat pertama kali oleh Krikpatrick Macmillan tahun 1839 ini, sering digunakan untuk berolahraga. Efisiensinya membakar kalori memang paling efisien, termasuk jika dibandingkan dengan berjalan kaki. Olahraga bersepeda dapat dilakukan secara lebih efisien dengan menggunakan
berbagai konsep fisika.

Dalam olahraga bersepeda, kita akan mengalami empat gaya utama: gaya angin, gaya hambat udara, gaya gesekan, dan gaya gravitasi. Fred Rompelberg dari Belanda berhasil mengefisienkan usaha dari gaya-gaya ini sehingga ia berhasil memecahkan rekor dunia untuk kecepatan tertinggi dengan 268,83 km/jam pada tanggal 3 Oktober 1995.

Gaya angin

Dalam bersepeda, angin yang berembus berlawanan arah dengan arah gerak si pengendara sepeda merupakan penghambat yang sangat menjengkelkan. Energi si pengendara akan terkuras banyak untuk melawan hambatan angin ini.
Bayangkan, untuk mempertahankan kecepatan 15 km/jam di tengah angin yang bertiup dengan kecepatan 10 km/jam saja kita akan kehilangan sekitar 800 kalori setiap menitnya. Tetapi angin juga bisa menjadi faktor yang mempercepat gerakan sepeda jika arah tiupan angin searah dengan arah maju sepeda.

Gaya hambat udara (drag force)

Di samping angin yang bertiup kencang, udara sendiri dapat menjadi penghambat bagi si pengendara sepeda. Tubuh manusia yang duduk tegak di atas sepeda merupakan bentuk yang sangat tidak aerodinamik karena mengacaukan aliran udara sehingga memaksakan terbentuknya dua daerah dengan tekanan yang berbeda.

Daerah di belakang tubuh pengendara sepeda bertekanan rendah, sementara daerah di depan tubuh bertekanan tinggi. Perbedaan tekanan ini mengakibatkan tubuh pengendara terdorong ke arah belakang. Semakin cepat sepeda bergerak, semakin besar gaya dorong ini. Ini mencegah si pengendara untuk mengayuh sepeda secepat-cepatnya.

Besarnya drag force ini sebenarnya dapat diminimalisasi dengan mengaplikasikan bentuk yang paling aerodinamik, yaitu bentuk yangstreamline (ramping) yang dapat menembus udara dengan lebih mulus. Ini dilakukan dengan membungkukkan badan. Dalam suatu lomba bersepeda, para atlet bukan saja beradu kekuatan untuk menjadi yang tercepat, tetapi justru beradu teknik untuk memaksimalkan efisiensi aerodinamik yang dapat dicapai

Selain penempatan posisi tubuh yang baik, desain roda dan kerangka sepeda yang tepat juga dapat mengurangi tahanan udara. Kerangka sepeda yang berbentuk bulat digantikan oleh rancangan bentuk yang oval, sementara bentuk roda yang bergerigi digantikan oleh bentukcakram (disc) yang dapat memperkecil turbulensi (gejolak udara) dan drag force saat berputar.

Cara lain untuk memperkecil drag force adalah dengan melakukan teknik drafting, yaitu bersepeda beriringan sambil memanfaatkan pusaran-pusaran udara (arus eddy) yang tercipta tepat di belakang pengendara terdepan untuk menarik pengendara berikutnya sehingga energi yang dibutuhkan menjadi lebih kecil (mirip dengan gerakan migrasi angsa yang membentuk huruf V).

Semakin kecil jarak antara pengendara terdepan dengan pengendara berikutnya, semakin efisien penggunaan energi oleh kedua pengendara. Pengendara terdepan dibantu oleh penggunaan arus eddy oleh pengendara berikutnya.

26 Mei 2008

Kebangkitan Nasional dan "Kebangkitan" Sepeda

LAHIRNYA sebuah organisasi modern; Boedi Oetomo 20 Mei 1908 merupakan tonggak lahirnya sebuah gerakan kebangsaan, kebangkitan nasional.

Namun perjuangan pemuda-pemuda cerdas dan berani seratus tahun yang lalu hanya tinggal cerita, karena kini seabad setelah semangat ini dimulai, Indonesia justru ada dalam kondisi terpuruk. Walau demikian, riuh peringatan yang menghabiskan milyaran rupiah dalam pesta "INDONESIA BISA" menggema dihampir seluruh pelosok negeri.
Pesta tersebut adalah sebuah contoh peringatan diantara sekian banyak cara yang dilakukan untuk memperingati sebuah hari bersejarah.
Tidak ketinggalan komunitas bersepeda Batam, yang berkonvoi keliling kota untuk ikut meramaikan peringatan seabad kebangkitan nasional.
Pesan dan semangat apa yang ingin disampaikan pesepeda Batam dalam peringatan ini?

Jika Dr. Sutomo dan kawan-kawan sadar bahwa perjuangan bisa dilakukan tidak hanya dengan senjata, maka pecinta sepeda memiliki kesadaran bahwa untuk menyelamatkan bumi tercinta ini, tidak perlu menjadi superhero, cukup dengan bersepeda:)
Hal inilah mengapa belakangan ini kegiatan bersepeda bangkit (dan semakin ramai) di Indonesia dan khusunya Batam. New biker dan komunitas-komunitas bersepeda bermunculan bak jamur di musim hujan.
Semangat kebangkitan sepeda adalah sehat, hemat dan save our earth.
Semangat ini muncul karena aktivitas bersepeda adalah aktivitas yang menyehatkan, selain itu dengan bersepeda, pesepeda berkontribusi besar dalam "stop global warming" dan kampanye hemat BBM.

Dalam moment seabad kebangkitan nasional, semoga pesan save our earth dan semangat (Indonesia Bisa) sehat dan hemat tersampaikan kepada masyarakat Batam melalui kegiatan konvoi sepeda ini.

Bangkitkan semangat bersepeda dan jadilah pahlawan untuk bumi tercinta ini:)

12 Mei 2008

Terapi Lagi

Aku offroad lagi, terapi lagi...;)

Cukup 2x "sesi terapi" membuatku percaya diri lagi menghadapi downhill.

Offroad jalur kebun sayur-blok R bener-bener menyenangkan. Sepertinya sepanjang sejarahku bersepeda, offroad di jalur ini jadi kegiatan bersepeda paling membahagiakan, apa karena kaosku kuning ya, kemudian dunia jadi penuh semangat dan ceria?:)

Setelah bisa mengatasi luka dowhill sepertinya aku harus mencoba terapi untuk ketakutanku yang lain. Seperti saran seorang sahabat "selanjutnya terapi pisang", hehe..kayanya agak susah. Lah..baunya aja udah ga enak:(

Oya terapi yang lebih penting lagi adalah "terapi laki-laki". Wah yang ini lebih serem lagi...

Hehe..sudahlah:)
Dibawah ini kutampilkan beberapa foto offroad kebun sayur-blok R, sambil menunggu kiriman foto yang lain.



06 Mei 2008

Duriangkang 1, (Sedikit) Mengobati Luka

"Katanya takut offroad?" begitu sms dari seorang sahabat yang kemudian kureply dengan "mencoba mengobati luka".
"Luka" Tanjung Kelingking masih membekas, namun kuberanikan diri menerima tawaran offroad Duriangkang 1.

Tidak seperti Tanjung Kelingking yang menyuguhkan tanjakan, downhill yang memacu adrenalin, dan jebakan pasir, Duriangkang 1 menjamu dengan hamparan kebun sayur, ilalang yang meninggalkan luka sayatan, lolongan anjing dan jeritan babi yang terkejut, serta sedikit downhill.
Dari yang sedikit ini aku mencoba berdamai dengan ketakutanku. Ketika menghadapi downhill, rem tidak lagi kucengkram kuat. Kubiarkan lepas dan mencoba menikmatinya...
Seperti terapi, Duriangkang 1 sedikit mengobati lukaku.


28 April 2008

Dan Jeans Mengalah Demi Tanjung Pinang

DALAM kebimbangan aku mengirim pesan singkat ke beberapa temanku, begini isinya: "Aku mengajukan pertanyaan konyol, menurut kalian lebih baik membeli jeans ato nyepeda di Tg.Pinang (estimasi biaya dari dua kegiatan ini hampir sama). Thanks". Kemudian 2 orang mereplay: jeans dengan alasan aku sudah terlalu banyak nyepeda, 2 orang lagi menyarankan nyepeda di tg.pinang dengan syarat bulan depan tetep beli jeans, sedangkan 3 orang lagi tidak memberi masukan:(

Dasar "GS" (gila sepeda), kuputuskan berangkat. Dan jeans pun mengalah demi pesona Tanjung Pinang.

Tiba di Pinang, Umar menjemput. Kali ini tidak dengan mobil rakyat (plat merah) melainkan dengan motor dan hal ini memaksaku untuk menggowes dari pelabuhan ke kantor Umar. Seperti wajib pajak yang menunggu antrian, aku duduk di depan loket pelaporan ditemani segelas teh hangat dan kue. Syukurlah Pandu datang menjemput. Aku, Umar, Pandu dan seorang teman berlalu dari KPP menuju rumah dinas pajak.
Masih seperti sebelumnya, rumah Umar penuh dengan baju yang tergantung dan sampah yang menumpuk, ga jauh beda dengan Pandu, mungkin lebih buruk lagi karena rumahnya atau lebih tepatnya lagi disebut garasi, hehe.. Oya Si Koni pun sempat "digoda" oleh mas-mas itu. Oh.. Koniku disentuh laki-laki:(

Gowes Senja
Menikmati laut dan senja Pinang dari atas sepeda memang menyenangkan, setelah berputar-putar di jalanan Pinang yang berbukit, diiringi deru dan kepulan asap kendaran bermotor, kami memutuskan menikmati senja di OC (ocean corner) sebuah public space yang penuh penjual makanan.
Senja di OC

Nite Ride
Setelah OC, kayuhan kami lanjutkan ke Puncak. Fyuh...tanjakannnya dasyat, mungkin seperti Tg.Uma. Sayangngnya aku ga berhasil, rantaiku lepas begitu juga dengan Pandu, sedangkan Umar walau berhasil tapi ga bisa dipungkiri lututnya gemetar dan dia tampak sibuk mengatur nafas:). Dari Puncak, kami bisa melihatnya indahnya lampu kota Tanjung Pinang, nih fotonya..

Lampu Kota Tg. Pinang

Malam makin pekat, selepas menikmati makan malam pertama kami bergegas turun. Tujuan berikutnya adalah Potong Lembu,untuk menikmati makan malam yang kedua:) Potong lembu mirip seperti pasar malam di Bali, sayangnya banyak pengendara motor lalu lalang. Daripada pemerintah Propinsi Kepri sibuk menyuap pejabat untuk membabat hutan lindungnya, lebih baik memikirkan menata kota, ya salah satunya dengan membuat pedesterian di Potong Lembu:) Tempat ini sangat semarak, ramai penjual dan pembeli, kudu nyoba sendiri untuk tau suasananya.
Potong Lembu

Empat "GS" Pajak dan seorang "GS" Batam

Gowes Siang
Perbedaan gowes bersama bapak-bapak dan mas-mas terletak pada waktu dan ijin. Jika bersama bapak-bapak, waktu gowesnya dipagi hari, start sekitar jam6 tapi ijin dari keluarga relatif susah, nah klo gowes ma mas-mas, ampun deh gowesnya tengah hari bolong tapi ga perlu ijin dari manapun:) Ya mungkin mas-mas ini insomnia jadi mereka memulai tidur saat subuh dan janji gowes yang awalnya sekitar jam 8 berubah jadi jadi jam 11, fyuh panas euy....

Membelah panas kami menuju keplantar (pelabuhan), ya kami akan bersepeda di Pulau Penyengat. Asik..kali ini Si Koni naik pompong:)
Penyengat memang tempat yang eksotik untuk foto, klo untuk nyepeda hmm..mungkin kurang tepat karena pulaunya kecil dan masih banyak hutan serta rawa sehingga sulit dilalui sepeda. Tapi secara keseluruhan MANTAB! Palagi foto2nya, hehe..secara ada fotografer (Pandu, red) plus kameranya yang bikin ngiler:)


Pulau Penyengat

Waktu cepat sekali berlalu, surya meredup dan kami bergegas kembali ke Pinang. Kegiatan berikutnya adalah nyepeda di hutan, jalur yang dibanggakan Umar:)
Jalur hutan kota ini cukup menantang, tapi setelah trauma Tanjung Kelingking, menghadapi downhill aku mendadak ketakutan, takut membayangkan terjerembab lagi:( Alhasil, setiap downhill aku menggenggam rem kuat-kuat, fyuh...


Offroad hutan kota

Waktu memang tidak bisa diajak bernegosiasi, jam5 sore aku harus sudah di pelabuhan lagi. Kembali ke Batam dan kembali ke rutinitas.

Sepotong jeans executive memang tidak akan dapat memberikan kebahagiaan seperti sepeda:)

Keep cycling.., begitu kata Umar Hadi Prayitno:)





Sapedah | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id