Tampilkan postingan dengan label Gundah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gundah. Tampilkan semua postingan

15 Maret 2009

Labraklah Daku, Kau Ku .....

Belum selesai masalah di karantina semalam, pagi-pagi muncul masalah baru.
Aku dilabrak.
Sial...
Di telepon perempuan itu berbicara tanpa jeda, tanpa memberikanku kesempatan bicara. Kemudian klik, telepon terputus.
Beberapa menit kemudian telepon genggamku memanggil lagi.
Kuangkat dengan sapa selamat pagi (mungkin seharusnya selamatkan pagi), lalu terdengar suara perempuan yang sama. Kali ini dia memberikan kesempatan bicara. Kujelaskan bahwa aku hanya bersepeda. Sudah.
Dia paham. Tapi tidak mengucapkan kata maaf.
Sial(an)..
Kenapa sie harus melabrakku, bukankah sebaiknya meminta penjelasan dulu pada suami?
*Untuk bapak-bapak pesepeda yang sempat membaca blog ini, tolong sampaikan pada istri-istri tercinta, bahwa ada perempuan single n happy dikomunitas sepeda. Dan sampaikan pada mereka bahwa si single tidak tertarik dengan laki-laki berkeluarga.

02 Februari 2009

Bahwa Ini Adanya

BUKAN konselor perkawinan, bukan juga perusak rumah tangga mereka. Saya sahabat yang kebetulan melintas dan menjadi terlibat.

Ia (1) : (prasangka, pembenaran, pilihan, lara)

Ia (2) : (lara, tak berdaya, prasangka, tak percaya)

Saya : .........., sepakat?

Mereka : sepakat.


..........,
tiada yang tersembunyi, tak perlu mengingkari, rasa sakitmu, rasa sakitku
tiada lagi alasan, inilah kejujuran, pedih adanya, namun ini jawabnya
lepaskanku segenap jiwamu, tanpa harus ku berdusta, karena kaulah satu yang kusayang, dan tak layak kau didera
sadari diriku pun kan sendiri, di dini hari yang sepi, tetapi apalah arti bersama, berdua, namun semu semata
tiada yang terobati, di dalam peluk ini, tapi rasakan semua, sebelum kau kulepas selamanya
tak juga ku paksakan, setitik pengertian, bahwa ini adanya, cinta yang tak lagi sama
...........

20 Oktober 2008

Jika Waktu

Jika waktu terulang kembali
Tidak akan kutimpali surat sepi itu

Jika waktu terulang kembali
Tidak akan kusapa pagimu

Jika waktu terulang kembali
Tidak akan kubagi mereka yang melegenda itu

Jika waktu terulang kembali
Akan kuacuhkan warna-warnamu

Jika waktu terulang kembali
...

Jika saja
Waktu terulang
Kembali

Hanya jika...

29 September 2008

Pulang

Pulang kemana? Kalimat itu sering tergiang di kepala. Kalimat itu saya terjemahkan sebagai bentuk keresahan akan identitas saya yang "tercabut".

Pukul 14.00 WIB, terduduk pada bangku kayu disebelah AW Restaurant di terminal 2F, menunggu detik-detik kepulangan. Terasa dan terdengar aneh menyebut keberangkatan saya ke Batam dengan pulang. Aneh memang, memang aneh, tapi saya memang pulang, pulang ke Batam.

Kehilangan dan kebingungan

Sejak kepindahan mereka ke Bogor dua tahun yang lalu, saya merasakan kehilangan dan kebingungan. Kehilangan, karena saya tidak lagi bisa pulang ke rumah itu, saya benar-benar kehilangan rumah itu. Rumah tempat saya tumbuh, tempat merangkai kisah luar biasa, tempat yang membuat saya selalu ingin kembali (pulang). Dan saya juga merasa kebingungan, bingung karena mendadak saya harus mengatakan saya pulang ke Bogor atau saya pulang ke Jogja, saya tidak bisa lagi mengatakan saya pulang ke Bali.

Meski di Bogor dan Jogja ada rumah indah, ada keluarga yang penuh cinta, ada kisah bahagia, namun tetap terasa kurang pas mengatakan pulang. Terasa lebih pas mengatakan mampir ke Bogor, mampir ke Jogja. Di dalam hati saya, kata pulang hanya pas jika di pasangkan dengan Bali dan rumah itu. Pulang ke Bali, pulang ke rumah itu.

Tapi kini tidak ada lagi rumah itu, lalu saya pulang kemana?

Pulang Ke Batam

Sebuah telp membuka peluang bagi saya untuk menemukan kembali identitas yang tercabut. Telp itu mengantarkan saya pada Batam. Pulau, kota yang tidak pernah ada di benak saya untuk saya kunjungi apalagi tinggal dan punya rumah. Sebuah rumah, meski tidak seperti rumah itu, namun bisa membuat saya ingin kembali dan berkata, "Saya pulang, pulang ke Batam".

Detik-detik berlalu, dari bangku kayu saya beranjak menuju pintu F4 karena pukul 16.55 WIB seekor burung Garuda akan menerbangkan saya pulang.

I'm going back home.

Been There, Done That

Melalui 432000 detik dengan ketidakwarasan, memang sungguh sangat tidak waras. Terporosok atau lebih tepatnya memerosokkan diri ke suatu pilihan yang tidak waras.
Bahwa 432000 detik ketidakwarasan itu harus diakhiri.
Been there, done that.
Ketidakwarasan, done.

19 September 2008

Ketidakwarasan Padaku

Ketidakwarasan padaku
Membuat bayangmu selalu ada
Menentramkan malamku
Mendamaikan tidurku

Ketidakwarasan padaku
Membuat hidupku lebih tenang
Aku takkan sadari
Bahwa kau tak lagi disini

Aku mulai nyaman
Berbicara pada dinding kamar
Aku takkan tenang
Saat sehatku datang

Ketidakwarasan padaku
Selimut tebal hati rapuhku
Berkah atau kutukan
Namamu yang kusebut

Aku mulai nyaman
Berbicara pada dinding kamar
Aku takkan tenang
Saat sehatku datang

Luka hati akan mati
Jika jiwa terus menari dan bermimpi
Luka hati akan mati
Jika jiwa terus menari dan bermimpi

Ketidakwarasan padaku
Selimut tebal hati rapuhku
Aku takkan sadari bahwa kau tak lagi disini
Aku takkan sadari bahwa kau tak lagi disini

(So7)

Yang sedang tidak waras.



15 September 2008

Bengawan Solo

Bengawan solo, riwayatmu ini
Sedari dulu jadi perhatian insani
Musim kemarau tak sebrapa airmu
Di musim hujan air meluap sampai jauh

Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut

Itu perahu
Riwayatmu dulu
Kaum pedagang slalu naik itu perahu
(Bengawan Solo, Gesang)

Lelah.
Kepalaku sedang bekerja seperti tape, yang memutar kaset lagu Bengawan Solo selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu tanpa henti.
Kuputar lagi, lagi dan lagi...
Kala itu kutanyakan interpretasinya pada lagu ini, dan jawabnya singkat: kangen.
Hari-hari belakangan ini, mungkin juga esok dan esoknya lagi, aku merindukannya.
Bengawan Solo padanya.

09 Juni 2008

Pada Sebuah Halte

Pada sebuah halte, aku menunggunya.
Menunggu sambil menikmati hilir mudik orang dan kendaraan yang lalu lalang. Sesekali menengok kebelakang menatap gedung tinggi dengan cat warna-warni dan penuh kerlip lampu, sangat urban.

Pada sebuah halte, aku memikirkannya.
Apa kabarnya, dan apa yang sedang ia kerjakan.

Pada sebuah halte, aku bersabar.

05 Juni 2008

Dia

Di perjalananku kutemui sebuah pohon

Begitu kokoh dan teduh

Seperti kamu...

02 April 2008

In Love 'Til You Drop & Six Flavors of Love

Semalam aku begitu resah, resah karena dia mengacuhkanku.
Seperti gadis kecil yang jatuh cinta sampai terkulai, dan semakin terkulai karena acuhnya.

In love 'til drop

Masih tentang cinta, kala cinta datang, muncul berjuta rasa (kata orang sie, hehe...). Melalui sms aku mengumpulkan "rasa" cinta yang kemudian kusaring dari pendapat teman-teman. Ga banyak-banyak kupilih enam saja. Kenapa enam?, kayanya enak didengar: Six Flavors of Love.

Nah ini the six flavors of love:
1. Bergairah (termasuk juga sex)
2. Resah (kangen juga bisa)
3. Boros, pulsa dan waktu
4. Kehilangan teman
5. Bosan
6. Pening

Seperti itukah rasa cinta??

Selamat bercinta, bergairah, ..., dan pening:)



Sapedah | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id