Baobab atau Tempayan Besar Berbuah Abu-Abu. Ketika menemukan pohon ini, saya dan Nai sampai meloncat-loncat kegirangan. Si Tempayan Besar Berbuah Abu-Abu ini disebutkan dalam buku Pangeran Kecil. Lengkapnya baca blog Naijah.
Nai_ Ular Yang Berbisa
Nai_ Ular Yang Berbisa
Didepan Batu Tulis
Hari semakin sore, kami harus segera beranjak dari Telaga Warna walau terasa berat. Perjalanan kami lanjutkan ke Kawah Sikidang. Kawah ini bergolak dan menyebarkan aroma belerang yang menyesakkan. Diantara aroma belerang dan kepulan asap dari kawa, kami berpose, hehe lucu2.. Terutama Afik, dia nampak seperti penjahat jadul yang ga bisa baca tulis. Bagaimana tidak, jelas disebutkan dipapan peringatan bahwa dilarang menyalakan api, eh dia malah merokok. Plis plis plis...
Kawah Sikidang
Dari kawah, kami beranjak menuju komplek Candi Arjuna. Nah disini nih tempat candi tertua Hindu. Sungguh kahyangan...
Oya, diluar komplek Candi Arjuna, masih ada candi lain yakni Candi Gatotkaca.
Jembatan Barelang
Penjual tiket, Perjalanan dimulai
Batam-Sugie ditempuh dalam waktu 1 jam. Selama perjalanan mata kami disuguhi pemandangan laut dan deretan pulau kecil yang sangat cantik. Kapal sempat berhenti di beberapa pulau kecil untuk turun dan menaikkan penumpang. Akhirnya...kami tiba di Sugie pukul 13.15 WIB.Pintu gerbang kampung Sugie berupa dermaga kayu yang panjang dan sangat cantik, wah..bener2 indah dan tenang. Oya, ternyata di dermaga kayu ini disediakan juga toilet umum, klo kubilang toliet cemplung, hehe "semua" yang kita buang bisa langsung terjun ke laut dan mungkin akan menjadi santapan ikan2 kecil disekitarnya:)
Toilet "cemplung"
Kami beristirahat di rumah Maridan, disana kami disuguhi kerupuk ikan khas Pulau Moro (letaknya didepan Sugie), mangga, dan minuman dingin, segerrr.... Karena kenyang, kami tertidur, untunglah sebelum matahari beranjak kami dibangunkan oleh Rio (ponakan Maridan). Rio menawarkan diri menemai aku dan Atik jalan2 ke Pantai. Wuih...ternyata ada tambahan 2 orang tour guide cilik (Ryan dan Nafi), komplitlah.... (2 tante "girang" dan 3 anak-anak).Sepanjang perjalanan ke pantai, 3 tour guide tadi menerangkan daerahnya dengan gaya anak-anak yang polos:) Eitt...ditengah jalan Nafi tiba-tiba menangis, "takut lembu(sapi), mo pulang.." begitu katanya. Wah gawat nih acara ke pantai bisa batal hanya karena sapi, soale jalan terdekat ke pantai ya harus melewati kumpulan sapi yang lg makan rumput. Weh2..akhirnya Ryan memutuskan menggendong pulang Nafi dan kami melanjutkan perjalanan ke pantai
Merajuk
Diatas pompong, Kampung Buah Rawa
Lelah dan haus (bgt..)
Kelapa muda membuat kami bersemangat dan kembali melanjutkan perjalanan. Kami sampai di kampung Sugie hampir menjelang magrib.
| Sapedah | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id |