Tampilkan postingan dengan label Dolan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dolan. Tampilkan semua postingan

14 Oktober 2008

Kebun Raya Bogor

Dari Bali, saya sempatkan mampir ke Bogor. Di Bogor saya sempatkan ke Kebun Raya. Kebun Raya Bogor seperti oasis; daerah subur ditengah gurun Kota Bogor.

Sejuk, teduh, dan hijau begitulah Kebun Raya Bogor. Hehe..ya iyalah. Di kebun ini banyak hal-hal menarik yang saya temui, ada jembatan gantung yang bercat merah -kalau di Surabaya mungkin namanya Jembatan Merah-, ada drinking water -air yang bisa diminum langsung, ituloh seperti di film-film bule-, menemukan Baobab tree, dan yang paling seru adalah menemukan ular yang berbisa di museum zoology.

Jembatan Gantung
Jembatan yang indah. Seorang teman berpendapat bahwa jembatan ini indah digunakan sebagai lokasi pemotretan pre wedding. Hmm..entahlah, indah memang, namun mitos yang saya dengar dari Nai, bahwa jika ke jembatan gantung bersama kekasih, hubungan perkekasihan tidak akan bertahan lama, alias putus setelah berkasihkasihan di jembatan gantung. Mungkin ini lagu yang pas, "jangan kau gantung cerita cintaku...", ah ga nyambung. Jika digunakan sebagai lokasi pre wedding apakah akan bercerai? Hehe..mitosnya hanya untuk pasangan kekasih.
Baobab Tree
Baobab atau Tempayan Besar Berbuah Abu-Abu. Ketika menemukan pohon ini, saya dan Nai sampai meloncat-loncat kegirangan. Si Tempayan Besar Berbuah Abu-Abu ini disebutkan dalam buku Pangeran Kecil. Lengkapnya baca blog Naijah.
Drinking Water
Seperti di film-film, kami menemukan kran air yang airnya bisa langsung diminum. Satu persatu kami mencoba, tentunya sebelum minum kami membaca petunjuknya terlebih dahulu. Maklumlah kami belum pernah mengunakan kran air minum seperti itu. Hmm..rasa ga enak, seperti air yang lama dibesi berkarat, tapi saya telan juga, ingin membuktikan apakah aman (sehat) untuk diminum (gila ya:)). Jika tidak sehat, mungkin dalam beberapa jam lagi perut saya sakit.


Jembatan gantung, Baobab, Air Minum

Ular Yang Berbisa
Dari sekian banyak yang menarik di Kebun Raya Bogor, inilah yang menurut saya paling menarik. Menemukan atau bertemu dan mengambil gambar ular yang berbisa. Berikut foto ular yang berbisa:)

Nai_ Ular Yang Berbisa

28 Mei 2008

Mlaku-Mlaku

TANJUNG BALAI KARIMUN

Hari Pertama,
Kerja yang menyenangkan, karena sekaligus bisa dolan. Tujuan perjalanan ke Tanjung Balai Karimun minggu lalu sie keren “koordinasi dengan pemerintah, persiapan workshop dan survey DSA”, hehe tapi kenyataannya lebih mirip backpacking:)

Pukul 07.30 WIB, seorang diri dengan ransel yang penuh perlengkapan bersepeda dan beberapa dokumen kantor, aku berangkat dari pelabuhan Sekupang menuju Tanjung Balai Karimun. Perjalanan Batam-Balai Karimun ditempuh dalam waktu 1 jam 30 menit menggunakan Dumai Express dengan tiket Rp.60.000,00 dan retribusi Rp. 5.500,00.

Setiba di Balai, dengan angkot aku berkeliling kota (yang sangat kecil) mencari hotel yang layak untuk sebuah workshop. Ternyata tidak mudah, hanya sedikit sekali hotel di Balai yang memiliki fasilitas ruang meeting. Jikapun ada, tidak cukup layak untuk kegiatan yang akan kami selenggarakan.
Lelah, panas, lapar, kuputuskan makan siang disebuah kedai, menu yang kupilih; Nasi Ayam Hainan. Penampilannya sie manarik, tapi rasanya? Ga enak, terutama nasinya lebih mirip nasi penguk. Entah bagaimana cara mengolahnya, Nasi Hainan ini berwarna kusam, aroma dan rasanya seperti nasi yang dimasak dari beras yang sudah penguk. Tobat deh...
Selepas makan, kulanjutkan perjalanan ke komplek Kantor Pemerintahan Kabupaten Karimun. Satu-satunya sarana transportasi yang bisa menggapai tempat ini adalah ojek, ya secara ga ujan, jalan ga becek, jadi banyak ojek:) Kepala kantor Humas/Infokom dan Kesra sedang ga ada ditempat, ya udah perjalanan dilanjutkan ke Dinas Sosial yang jauh dan lagi-lagi dengan ojek. Sepanjang perjalanan sempat terpikir, klo yang ditugaskan bukan orang gila backpacking seperti aku, kayanya bakal ketakutan, lah wong jalanan sepi, jauh dan serasa in middle of nowhere, belum lagi terik matahari yang membakar kulit.

Nasi Ayam Hainan dan Kantor Bupati Karimun

Urusan dengan Dinsos dan hotel beres, saatnya mencari penginapan. Atas referensi Arman (biker Karimun), aku menginap di Hotel Megah yang permalamnya Rp. 50.000,00 dengan fasilitas kamar; AC, TV, air panas. Murah... ya kudu cari yang murah (dan aman), karena DSA ke Balai Karimun cuma sekitar USD 45.
Sore hari, aku mlaku-mlaku neng Pasar Malam, sebuah pedistarian yang penjual dan pembelinya berjubel. Aku menikmati es gunung (yang meleleh dengan cepat karena global warming) dan mietiaw goreng disebuah gang, soal rasa standarlah.. tapi suasanya itu yang sungguh sayang dilewatkan.
Dari Pasar Malam, aku beralih ke pujasera dipinggir laut, kali ini bersama Arman dan Kak Dela. Wah..Arman bener-bener pecinta sepeda sejati, dari awal sampai akhir perbincangan topiknya ga lepas dari sepeda. Walau ga jadi bersepeda karena Arman sedang sibuk dengan pekerjaannya, obrolan sepeda cukup mengobati:)

Es gunung, , Kak Dela dan Arman, Gang Pasar Malam

Hari Kedua,
Kalau udah di Balai, jangan lupa mencoba sarapan di pasar, menunya ya masih seputar mie. Mie lendir, kedengarannya sie rada menjijikan tapi tenyata uenak dan pastinya murah, Rp. 5000,00/porsi. Setelah makan, perjalanan selanjutnya ke kantor-kantor pemerintahan lagi, cape deh!
Usai merampungkan pekerjaan, saatnya kembali ke Batam. Bulan depan kudu nyepeda di Balai:) Oya jangan lupa nyoba becak Karimun.

Becak Karimun

BELAKANG PADANG

Untuk urusan dolan, kayanya ga ada capenya. Setelah Balai, di Sabtu pagi yang cerah kuputuskan dolan ke Belakang Padang. Pulau kecil yang bisa ditempuh ± 20 menit dengan pompong dari Pelabuhan Sekupang.

Hehe..klo dolan ga lengkap klo mencicipi makanan. Mampir di pasar yang emang letaknya disebelah pelabuhan, aku duduk disebuah kedai dan menikmati semangkuk sop tulang iga. Tidak istimewa, tapi cukup mengobati lapar.
Dari pasar aku beranjak ke deretan becak, karena rencana berikutnya adalah mubeng-mubeng Belakang Padang dengan becak. Setelah nego harga, disepakati dengan Rp. 25.000,00, pak becak akan mengantarkanku berkeliling dan melihat pantai.

Ngelmu
Selama perjalanan, Pak Susanto si tukang becak, membagi “ilmu”nya padaku. JARAN GUYANG, jampi-jampi pemikat pasangan. Kgkgkg... mungkin dia prihatin melihatku yang jalan sendirian.
Gini jampi2nya:
Bismilah 3x, manuk kepudang kuning saiki kongkon mlebuo, menyang raga badake (lalu sebutkan nama orang yang diidamkan) lungo asih teko asih, ojo siro lali keno lali yen ingsun wis ketataban bumi”
Dilanjutkan dengan menggebuk bantal 3x kemudian bantal tadi dibalik, dan yang terpenting adalah puasa.
Hmm...ngelmu oh ngelmu, membutuhkan pengorbanan bantal dan menahan lapar:)

Sesuai janji, Pak “dukun” Susanto mengantarkanku ke pantai. Disini aku menikmati kelapa muda dan si dukun menikmati sekaleng Sprite.
Ga berlama-lama bersama si dukun, kuputuskan kembali ke Batam.
Disepanjang pelabuhan kutemui beberapa sepeda yang diikat ke pagar besi pelabuhan.

Aku dan "dukun", Sepeda Terikat

Sesuai namanya “Belakang Padang Pulau Penawar Rindu”, rinduku akan alam dan hasrat dolan terobati:)

01 April 2008

Dieng, Dataran Tinggi Dewa-Dewa

Dolan neng Dieng, bukanlah yang pertama kalinya. Ketika kuliah aku pernah mengunjungi dataran tinggi ini. Tapi kali ini sedikit berbeda, bukan hanya untuk kesenanganku tapi untuk ibu. Kami (aku, ibnu, nai, ibu, javi, afik dan mas kris) dolan neng Dieng Maret lalu.

Dieng berasal dari kata Di yang berarti tempat dan Hyang berarti dewa, jadi Dieng bisa berarti kahyangan ato tempat para dewa (hehe perlu ditelusuri lagi kebenarannya..)
Dieng berada dalam dua wilayah kabupaten yaitu Wonosobo dan Banjarnegara, selain itu Dieng juga dikelilingi beberapa gunung seperti Sindoro, Sumbing, Kembang dan... ( ada lagi, tapi aku lupa).

Memasuki wilayah Wonosobo, kami tidak melewatkan menikmati Mie Ongklok, mie khas Wonosobo yang berlendir dengan sedikit sayuran dan potongan cabe hijau kemudian ditambah pelengkap beberapa tusuk sate. Enak...

Setelah mie ongklok, perjalanan kami lanjutkan ke Dieng Plateu. Indah dan hijau, dikanan kiri jalan terhampar pohon kentang, ditambah lagi dengan udara yang dingin, brr... tapi sangat menyenangkan.
Tujuan pertama kami adalah telaga warna. Indah...., bahkan Nai sampai loncat-loncat saking gembiranya, dan sepertinya saat itu dia melupakan skripsinya:)



Tempat lain yang patut dikunjungi disekitar Telaga Warna adalah Telaga Pengilon, Gua Jaran, Gua Sumur, Gua Semar (kabarnya gua ini tempat untuk memohon jodoh, sayang banget gua ini ditutup, hiks..), dan Batu Tulis, tempat bertapa untuk??? Duh...aku lupa

Didepan Batu Tulis

Hari semakin sore, kami harus segera beranjak dari Telaga Warna walau terasa berat. Perjalanan kami lanjutkan ke Kawah Sikidang. Kawah ini bergolak dan menyebarkan aroma belerang yang menyesakkan. Diantara aroma belerang dan kepulan asap dari kawa, kami berpose, hehe lucu2.. Terutama Afik, dia nampak seperti penjahat jadul yang ga bisa baca tulis. Bagaimana tidak, jelas disebutkan dipapan peringatan bahwa dilarang menyalakan api, eh dia malah merokok. Plis plis plis...

Kawah Sikidang

Dari kawah, kami beranjak menuju komplek Candi Arjuna. Nah disini nih tempat candi tertua Hindu. Sungguh kahyangan...
Oya, diluar komplek Candi Arjuna, masih ada candi lain yakni Candi Gatotkaca.



Komplek Candi Arjuna

Senja datang, segera kami bergegas pulang. Dalam lelah aku membuka rekaman tentang Dieng yang baru saja berlalu.

28 Februari 2008

Senja Di Pantai Setoko

Sekitar pertengahan Desember 2007, aku dan beberapa temen mtb Batam mengunjungi Setoko, salah satu pantai di Kepri.

Untuk mencapai Setoko, dari Batam kami harus melewati tiga buah jembatan, yaitu: jembatan I atau dikenal dengan Jembatan Barelang (akronim dari Batam-Rempang-Galang) yang menjadi ikon Kota Batam dan menghubungkan Batam dengan pulau Tonton, lalu jembatan II yang menghubungkan pulau Tonton dan Nipah dan kemudian jembatan III yang mengubungkan pulau Nipah dan Setoko. Setelah melewati tiga jembatan tadi, kami harus berbelok kekanan kearah sebuah perkampungan, Setoko kurasa itu nama kampung tersebut.


Jembatan Barelang

Akses menuju kampung Setoko memang sudah bagus (aspal), tapi bagi pesepeda seperti kami (aku dan P.Andreas), yang bisa dikatagorikan golongan tak berdaya dilihat dari kemampuan dan daya tahan mengayuh, jalan Setoko seperti rentetan mimpi buruk. Kami harus bertempur dengan tanjakan-tanjakan yang sungguh menguras tenaga. Bahkan dibeberapa tanjakan, kami terpaksa berhenti dan mendorong sepeda sambil mengatur nafas. Tapi semua mimpi buruk tadi terbayar dengan keindahan yang kami dapatkan ketika tiba di pantai.

Pasir putih dengan butiran yang halus membuat kami dengan bersemangat melepas sepatu dan bermain air laut Setoko yang sangat tenang. Puas dengan bermain, kami menikmati kelapa muda, hmm..segar.

Senja datang dan surya sebentar lagi beranjak ke peraduannya. Kami ga melewatkankan moment indah ini. Kebetulan sekali P.Andreas adalah seorang fotografer, dan mendadak kami menjadi model amatiran yang ancur banget:) Dengan latar belakang “mata dewa” yang indah, pantai yang cantik, dan beberapa pohon bakau yang membuat suasana semakin romantis, kami berpose dengan berbagai gaya.
Oya mohon diabaikan “model-model” didalam foto, nikmati saja keindahan alamnya:)


Senja di Setoko

Gelap memaksa kami mengayuh sepeda pulang, selain itu "visa" bersepeda yang dimiliki bapak-bapak itu cuma sampai jam 9 malam. Semua hal indah yang kami nikmati di Setoko, terekam manis dalam bilik memori kami.

Lawatan kedua
Hasrat ingin menikmati kembali keindahan Setoko, membuatku dan bersama beberapa teman berkunjung lagi. Seperti pertama saat aku datang, Setoko masih indah...



Bersama Atik dan Kak Mar


27 Februari 2008

Perjalanan ke Pulau Sugie


Bagi yang suka jalan-jalan, Kepulauan Riau wajib dikunjungi. Kepri dengan ribuan pulaunya menyimpan pesona yang luar biasa, disini kita bisa berwisata bahari, wisata kuliner -yang terkenal dengan seafoodnya dan jangan lupa mencoba Gonggong, siput laut khas perairan Kepri-, wisata budaya dan sejarah. Diantara ribuan pulau kecil di Kepri, ada satu pulau exotic yang mungkin tidak banyak orang tahu dan pernah berkunjung.

Pulau ini kusebut saja pulau Sugie (Sugie, nama sebuah kampung di pulau ini tempat temanku tinggal), untuk nama pulau yang sebenarnya aku kurang paham. Perjalanan ke pulau ini kulakukan Sabtu 12 Januari 2008, sak jane tujuan utamanya adalah mengahadiri pesta pernikahan temenku di Kampung Buah Rawa yang letaknya berpunggungan dengan Kampung Sugie. Untuk mencapai Buah Rawa dari Sugie bisa ditempuh melalui darat yang berarti harus menerjang bukit dan hutan atau pilihan yang jauh lebih mudah adalah melalui laut dengan menggunakan kapal.

Jam 11.00 WIB aku berangkat dari kosku tercinta di Tiban Batam menuju pelabuhan Sekupang. Di Sekupang kami (aku, Atik, dan Maridan) disambut dengan teriakan penjual tiket yang mengeluarkan kepalanya dari loket dan berteriak sekeras mungkin (kindly find pic. "penjual tiket") dan membuat suasana pelabuhan mjd sangat gaduh. Akhirnya dengan Rp 65.000 ditambah biaya pas masuk pelabuhan Rp.3000, kami pergi dari kegaduhan tadi dan melangkah ke kapal.


Penjual tiket, Perjalanan dimulai

Batam-Sugie ditempuh dalam waktu 1 jam. Selama perjalanan mata kami disuguhi pemandangan laut dan deretan pulau kecil yang sangat cantik. Kapal sempat berhenti di beberapa pulau kecil untuk turun dan menaikkan penumpang. Akhirnya...kami tiba di Sugie pukul 13.15 WIB.Pintu gerbang kampung Sugie berupa dermaga kayu yang panjang dan sangat cantik, wah..bener2 indah dan tenang. Oya, ternyata di dermaga kayu ini disediakan juga toilet umum, klo kubilang toliet cemplung, hehe "semua" yang kita buang bisa langsung terjun ke laut dan mungkin akan menjadi santapan ikan2 kecil disekitarnya:)



Toilet "cemplung"


Kami beristirahat di rumah Maridan, disana kami disuguhi kerupuk ikan khas Pulau Moro (letaknya didepan Sugie), mangga, dan minuman dingin, segerrr.... Karena kenyang, kami tertidur, untunglah sebelum matahari beranjak kami dibangunkan oleh Rio (ponakan Maridan). Rio menawarkan diri menemai aku dan Atik jalan2 ke Pantai. Wuih...ternyata ada tambahan 2 orang tour guide cilik (Ryan dan Nafi), komplitlah.... (2 tante "girang" dan 3 anak-anak).Sepanjang perjalanan ke pantai, 3 tour guide tadi menerangkan daerahnya dengan gaya anak-anak yang polos:) Eitt...ditengah jalan Nafi tiba-tiba menangis, "takut lembu(sapi), mo pulang.." begitu katanya. Wah gawat nih acara ke pantai bisa batal hanya karena sapi, soale jalan terdekat ke pantai ya harus melewati kumpulan sapi yang lg makan rumput. Weh2..akhirnya Ryan memutuskan menggendong pulang Nafi dan kami melanjutkan perjalanan ke pantai

Merajuk

Pantai indah dengan pasir putih. Oya aku sempat bermain layangan dengan anak2 disebuah dermaga kayu yang lapuk smp Atik menolak untuk melewatinya.




Bermain air, Senja dan layangan, siluet Atik


Satu malam terlewati, di pagi hari kami bersiap menuju Buah Rawa. Pompong (kapal dengan mesin dalam 8PK yang menimbulkan bunyi "pongpongpong") melaju dengan lambat membelah laut yang tenang menuju Buah Rawa. Buah Rawa ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menit, cukup melelahkan karena matahari bersinar terik.

Setelah bersalam-salaman dan makan tentunya, kami berpamitan pulang (ada cerita menarik pada pesta pernikahan ala kampung buah rawa, tapi akan kuceritakan lain kali). Kembali matahari membakar kulit, gosong euy....


Diatas pompong, Kampung Buah Rawa

Sampai di Sugie kami beristirahat 1 jam, mengumpulkan tenaga untuk ke air terjun (7kolam) yang lokasinya di bukit tengah2 pulau. Yap...jam 13.00 WIB perjalanan ke air terjun dimulai. Dengan motor kami melewati medan yang sangat cocok untuk dipakai offroad bersepeda, kemudian melewati kebun karet (agak merinding juga melihat sayatan di pohon karet, duh...ga kebayang kita disayat seperti itu, ngeri....), dan perjalanan dengan motor terhenti disebuah tempat datar (baik untuk camp) sekitar 5 menit dengan berjalan kaki dari kolam 1 air terjun. Setelah berjalan kaki kami sampai di kolam pertama, yang pertama terlintas di kepalaku "kenapa airnya hitam?", entahlah mgkn karena plankton ato??? aku tidak punya jawaban.Menarik, walau tidak seperti air terjun yang kubayangkan:) Menurut penduduk sekitar, air terjun ini ada 7 kolam. Tapi kami hanya sampai kolam ke-2, wis kesorean selak magrib.



Diatas kolam 2, kolam 1, air hitam

Puas bermain di kolam 1 dan 2, kami pulang. Lacur, motor yang kupakai mengalami kerusakan "gas nyantol", sangat berbahaya. Begitu juga dengan motor yang dipaki Atik, mesin panas sehingga tidak nyala. Fyuh..jadilah kami berjalan kaki hampir beberapa jam dan menitipkan motor yang rusak tadi di rumah seorang petani karet. Bener2 cape...

Untunglah di tengah jalan ada pohon kelapa, dengan sigap Awang-tour guide- memetik 4 buah kepala muda, dan kebetulan sekali Maridan membawa parang. Jadilah kami berempat yang kecapekan menikmati air kepala muda.

Nikmat....

Pesan moral: saat bepergian ke hutan bawalah parang dan ajaklah teman yang pandai memanjat pohon:)

Lelah dan haus (bgt..)

Kelapa muda membuat kami bersemangat dan kembali melanjutkan perjalanan. Kami sampai di kampung Sugie hampir menjelang magrib.

Dua malam terlewati sudah di kampung Sugie, saatnya kembali ke Batam.



Sapedah | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id